9 Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial Dalam Psikologi Sosial

Dalam membangun sebuah kehidupan sosial, manusia menciptakan bentuk-bentuk interaksi sosial yang kemudian dipelajari dalam ilmu sosial. Sebagai anggota kelompok sosial, kita bertindak dan berperilaku dengan cara tertentu. Perilaku setiap individu biasanya dipengaruhi oleh perilaku orang lain yang kemudian dikenal dengan istilah interaksi.

Interaksi adalah inti dari kehidupan sosial, dimana sistem perilaku itu tumbuh. Kedekatan fisik pada individu tidak bisa langsung dikatakan sebagai sebuah unit sosial. Mereka baru bisa dikatakan membuat suatu kelompok jika telah menjalin hubungan atau berbicara satu sama lain untuk mewujudkan tujuan bersama atau bahkan bersaing satu sama lain.

Menurut Dawson dan Gettys, “Interaksi sosial adalah proses dimana orang saling merasuk pikiran satu sama lain”. Sedangkan pengertian secara umum, Interaksi sosial adalah pengaruh timbal balik manusia mengerahkan satu sama lain melalui inter-stimulasi dan respon.

Mengenal Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial

Gillin membedakan bentuk interaksi sosial menjadi dua jika dilihat dari akibat adanya interaksi sosial. Kedua bentuk tersebut adalah interaksi sosial asosiatif dan interaksi sosial disosiatif. Interaksi sosial asosiatif adalah bentuk interaksi sosial dengan tujuan saling menguntungkan dan terjadi proses persatuan didalamnya, sedangkan interaksi sosial disosiatif terjadi atas latar belakang persaingan dan proses oposisi.

Adanya bentuk interaksi sosial asosiatif dan disosiatif pada akhirnya menciptakan beberapa aspek interaksi sosial. Kedua bentuk tadi memiliki macam-macam yang lebih diperinci menjadi bentuk-bentuk interaksi sosial yang spesifik. Interaksi sosial asosiatif memiliki kerjasama, akomodasi, asimilasi, akulturasi, dan paternalisme. Sedangkan Interaksi sosial disosiatif memiliki bentuk kompetisi, konflik, kontravensi dan pertikaian.

Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial Asosiatif

gambar bentuk interaksi kerjasama

1. Kerjasama/Cooperation

Ini adalah salah satu proses dasar di masyarakat. Fairchild mendefinisikan kerjasama sebagai proses dimana kelompok atau individu menggabungkan kekuatan mereka dengan cara yang relatif terorganisir untuk mencapai tujuan bersama (Doshi, 1999).

Kerjasama melibatkan partisipasi bersama-sama dari dua orang atau lebih untuk bekerja sama sehingga dapat mencapai tujuan yang sama (Sharma, 1997).

Perjuangan dalam hidup memerlukan kerjasama antar individu dan kelompok karena dengan penggabungan kekuatan yang dimiliki dapat lebih mudah untuk mencapai tujuan-tujuan hidup. Mengamati pentingnya kerjasama, tidak ada masyarakat yang ada tanpa kerjasama (MacIver & Page, 2003).

Kerjasama merupakan sebuah kebutuhan sosial dan psikologis bagi manusia, terutama untuk pria dan wanita, dalam memastikan kelangsungan umat manusia. Kurangnya kerjasama dapat menyebabkan seseorang untuk hidup sengsara dan kesendirian (Sharma, 1997).

Orang bercita-cita untuk gaya hidup yang progresif. kemajuan terus menerus tidak pernah dapat dicapai tanpa merangkul kerjasama. Semangat kerjasama antara orang-orang dan bangsa-bangsa telah bermakna berkontribusi pada kemajuan luar biasa dalam transportasi, dan komunikasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, pertanian dan industri. Dengan demikian, kerjasama ini tidak hanya diperlukan untuk interaksi sosial antara individu tetapi juga di antara bangsa-bangsa. Berikut ini bentuk-bentuk interaksi sosial dalam hal kerjasama :

  • Gotong royong, merupakan bentuk interaksi sosial yang terjadi secara sukarela untuk mengerjakan untuk kebutuhan bersama.
  • Bargaining, adalah bentuk kerjasama dengan melakukan kegiatan perjanjian pertukaran antara dua kelompok atau lebih. Pertukaran bisa diwujudkan dalam bentuk barang jasa yang saling dibutuhkan.
  • Kooptasi, merupakan prosedur terhadap hal baru dalam hal kepemimpinan lembaga untuk menghindari konflik yang bisa merusak organisasi.
  • Koalisi, merupakan bentuk kombinasi antara kelompok yang telah memiliki struktur kelompok sendiri.
  • Joint-venture, kerjasama yang dilakukan pada jangkauan proyek tertentu. Biasanya dalam joint-venture terdapat kesepakatan mengenai pembagian hasil bersama.

2. Akomodasi/Accomodation

Akomodasi merujuk terutama untuk proses dimana manusia mencapai rasa harmoni dengan lingkungannya(MacIver & Page, 2003). Dengan demikian akomodasi mengacu pada proses penyesuaian sosial. Hal ini terjadi ketika penyesuaian antara orang memungkinkan perilaku yang harmonis dalam masyarakat.

Seseorang mencapai akomodasi ketika dia/mereka memperoleh kebiasaan dan sikap yang disampaikan kepada mereka secara sosial. Penyesuaian adalah proses dimana kelompok dan individu mengubah situasi yang berubah untuk menaklukkan kesulitan mereka (MacIver & Page, 2003). Misalnya, setiap kali ada situasi baru dalam masyarakat, orang biasanya menyesuaikan situasi atau diri mereka sendiri sehingga dapat beradaptasi dengan lingkungan baru.

Konflik adalah realitas kehidupan, namun tidak pernah permanen. Dengan demikian, pertentangan individu atau kelompok pada akhirnya akan mencapai konsensus mengakhiri konflik. Perjanjian inilah yang disebut sebagai akomodasi. Bentuk-bentuk interaksi sosial akomodasi umumnya memiliki banyak sisi yang meliputi subordinasi, rasionalisasi, toleransi, konversi, arbitrase, konsiliasi, dan kompromi. Hal demikian membuat individu atau kelompok untuk berinteraksi sosial dengan paksaan karena salah satu atau kedua belah pihak tidak memiliki pilihan lain selain bekerja sama (Park & Burgess, 2007).

3. Bentuk Interaksi Sosial Asimilasi

Ogburn dan Nimkoff menggambarkan asimilasi sebagai proses dimana individu atau kelompok yang berbeda menjadi sama. Hal itu diidentifikasi karena adanya kepentingan dan pandangan yang sama (Ogburn & Nimkoff, 1992).

Asimilasi adalah proses interpenetrasi dan fusi di mana individu dan kelompok memperoleh sikap dan nilai-nilai dari orang atau kelompok lain, dan dengan berbagi pengalaman dan sejarah mereka. Mereka digabungkan dalam kehidupan budaya umum( Park & Burgess, 2007).

Dalam bentuk-bentuk interaksi sosial, asimilasi menetapkan hilangnya kesenjangan budaya antara beragam kelompok. Individu yang berasimilasi bertindak, merasakan dan berpikir dengan cara yang sama seperti yang mereka internalisasi sikap asing, tradisi umum dan kemudian mengadopsi identitas budaya/cara baru (Ogburn & Nimkoff, 1992).

Asimilasi sebagai aspek interaksi sosial dipromosikan oleh kesamaan budaya, penggabungan, kesempatan ekonomi yang sama, toleransi, ciri-ciri fisik umum, dan dekat kontak sosial (Argyle, 2009). Di sisi lain, hal itu terhalang oleh unsur-unsur berikut: perbedaan budaya, dominasi dan subordinasi, prasangka, perbedaan fisik, isolasi, perasaan superioritas dan inferioritas.

4. Akulturasi/Aculturation

Bentuk interaksi sosial akulturasi adalah proses sosial yang terjadi karena ada unsur penerimaan dan pengolahan beberapa unsur budaya asing yang masuk pada budaya suatu kelompok tanpa menghilangkan budaya aslinya.

Akulturasi merupakan hasil dari kombinasi dua budaya yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Budaya asing yang masuk pada kelompok tersebut tidak diterima mentah-mentah tetapi melalui proses tertentu sehingga budaya asing tersebut disesuaikan dengan kelompok sehingga tidak kehilangan budaya yang asli.

5. Paternalisme

Paternalisme merupakan salah satu dari bentuk-bentuk interaksi sosial asosiatif. Paternalisme ada karena ada upaya penguasaan kelompok pendatang pada kelompok tuan rumah. Perekonomian biasanya menjadi salah satu faktor terjadinya paternalisme. Biasanya perekonomian dikuasai oleh kelompok pendatang sebagai pemilik modal dan penduduk pribumi berperan sebagai buruh atay pekerja. Contoh yang pernah terjadi : Belanda yang menguasai Indonesia.

Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial Disosiatif

bentuk interaksi sosial disosiatif

1. Kompetisi

Sutherland, Woodword dan Maxwell berpendapat bahwa kompetisi merupakan impersonal, tidak sadar, tersebar terus menerus antara individu dan kelompok untuk kepuasan yang karena pasokan yang terbatas, semua tidak mungkin memiliki (Sutherland, 1996).

Berdasarkan definisi diatas Sutherland et al menggambarkan persaingan sebagai bentuk utama dalam perjuangan sosial. Persaingan tersebut muncul sebagai akibat dari langkanya sumber daya yang tidak mungkin dimiliki oleh semua orang sehingga setiap individu harus berusaha untuk memperolehnya. Persaingan tumbuh ketika permintaan melebihi pasokan (Ogburn & Nimkoff, 1992).

Uang, kekuasaan, ketenaran, status, kemuliaan, kemewahan dll adalah salah satu hal yang paling banyak membuat orang untuk bersaing. Kelangkaan adalah realitas lain dalam hidup dan dengan demikian persaingan tidak pernah habis dalam kehidupan masyarakat (Ogburn & Nimkoff, 1992). Aspek yang paling menonjol adalah bahwa persaingan merupakan proses yang berkesinambungan, impersonal, universal, dan aktivitas sadar. Kompetisi bersifat universal dan karena itu diwujudkan dalam berbagai bentuk.

2. Konflik

Konflik termasuk dalam bentuk interaksi sosial disosiatif karena langsung menantang lawannya. Konflik adalah bentuk interaksi sosial antara individu atau kelompok untuk mencapai tujuan mereka dengan langsung menantang antagonis menggunakan kekerasan ataupun ancaman (Doshi, 1999).

Hal ini mirip dengan kompetisi karena keduanya memang proses sosial disintegratif atau disosiatif. Aspek kontras antara konflik dan kompetisi adalah bahwa konflik mencapai tujuan dengan melemahkan atau menghilangkan lawan. Konflik sengaja mencoba untuk memaksa, menentang atau menolak kehendak orang lain atau yang lain (Sharma, 1997). Sederhananya, konflik merupakan kompetisi dalam bentuk pribadi dan sesekali-nya bermusuhan.

Charles Darwin, seorang ahli biologi memberikan pandangan mengenai prinsip perjuangan yang merupakan bentuk eksistensi dan survival of the fittest sebagai dasar utama dari konflik. Jenis yang paling umum dari konflik termasuk konflik langsung, konflik tidak langsung, konflik terbuka, laten, litigasi, konflik cita-cita impersonal, konflik pribadi dan perusahaan, permusuhan, dan perang.

3. Bentuk Interaksi Sosial Kontravensi

Kontravensi merupakan bagian dari bentuk-bentuk interaksi sosial yang memiliki sifat menentang tetapi secara sembunyi untuk menghindari konflik secara terbuka. Kontravensi didefinisikan sebagai bentuk interaksi sosial yang memiliki tanda ketidakpastian dan penyangkalan.

Biasanya kontravensi terjadi karena adanya perbedaan pemikiran pada masyarakat dimana setiap individu / kelompok memiliki pendapat dan berusaha mempertahankan pendapat tersebut namun dengan tidak ada keinginan untuk terjadi konflik secara terbuka.

4. Pertikaian

Pertikian merupakan bentuk proses sosial akibat adanya kontravensi. Terkadang individu dan kelompok tidak mampu untuk menahan perbedaan pendapat sehingga terbentuk pertikaian sebagai perselisihan terbuka.

Pertikaian biasanya terjadi ketika kondisi perbedaan semakin sensitif dan mengarah kepada amarah dan rasa benci yang memicu adanya niatan untuk menyerang lawannya. Pertikaian akan muncul apabila seseorang/individu sangat membutuhkan sesuatu namun mendapat perlawanan keras dari orang/kelompok lain.

Kesimpulannya, interaksi sosial memiliki sangat banyak bentuk-bentuk interaksi sosial yang paling menonjol satu sama lain.Seperti dibahas di atas, aspek-aspek ini memberikan kontribusi yang signifikan untuk bagaimana manusia cenderung berinteraksi dengan orang lain dan kemudian bagaimana interaksi tersebut mempengaruhi mereka secara psikologis.

Reply