Attention Deficit Hyperactivity Disorder / ADHD Adalah Gangguan Neurologikal?

ADHD adalah gangguan perilaku psikologis yang mempengaruhi 10% dari anak usia sekolah. Anak ADHD sering bertindak tanpa berpikir, berperilaku hiperaktif dan mengalami kesulitan fokus. Pada dasarnya mereka mengetahui apa yang mereka harapkan, namun mereka memiliki kesulitan untuk melakukannya karena mereka tidak bisa duduk diam, memperhatikan arahan dan sering gagal fokus.

Menurut situs kidshealth.org, anak laki-laki lebih berisiko mengalami ADHD dibandingkan anak perempuan. Anak laki-laki tiga kali lebih berisiko dibandingkan anak perempuan.

Lalu apakah anak ADHD bisa sembuh? Kabar baiknya adalah anak ADHD dapat belajar menjadi lebih baik dan mengelola ADHD mereka dengan perawatan yang tepat.

Apa itu ADHD?

Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD adalah sebuah gangguan perkembangan dan neurologis. Gangguan ini ditandai dengan sekumpulan masalah berupa gangguan pengendalian diri, masalah rentang atensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas.

ADHD menyebabkan seseorang mengalami kesulitan berperilaku, berfikir, dan mengendalikan emosi yang dapat mengganggu mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelumnya ada satu gangguan perhatian defisit selain ADHD, yaitu Attention Deficit Disorder (ADD). Definisi ADD berevolusi ketika ada perubahan yang dirujuk dari The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV-TR). 

Sekarang ADD adalah ADHD bahkan ketika DSM-5 diterbitkan pada 2013, terminologi ini masih tetap sama. Hanya saja, ADHD kini telah dipindahkan ke bab yang berjudul Neurodevelomental Disorders untuk mencerminkan korelasi perkembangan otak dengan ADHD.

Jenis dan Gejala ADHD

Pada panduan DSM-5, terdefinisikan empat jenis ADHD, yang mana pada DSM-IV hanya ada tiga jenis ADHD. Ada penembahan satu jenis ADHD yang disebut inattentive presentation, sedangkan ketiga jenis sebelumnya masih sama. Adapun empat jenis tersebut adalah:

  • Innatentive ADHD
  • Hyperactive-Impulsive ADHD
  • Combined ADHD
  • Inattentive Presentation

Masing-masing tipe ADHD tersebut dapat menyebabkan beberapa gejala ADHD yang berbeda. Secara rinci berikut ini perbedaan dari keempat jenis ADHD sesuai DSM-5.

1. Innatentive ADHD

Anak-anak yang memiliki jenis ADHD innatentive dapat duduk dengan tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda hiperaktif fisik yang jelas sehingga banyak orangtua yang menganggap anak tersebut bebas dari ADHD.

Anak yang mengalami innatentive ADHD memiliki gejala ADHD sebagai berikut

  • Mudah terganggu
  • Kesulitan mengorganisir tugas dan aktivitas
  • Pasif dan jarang berpartisipasi dalam suatu kegiatan
  • Sering melamun
  • Tampak bingung, mudah meluap-luap
  • Pelupa dalam aktivitas sehari-hari
  • Tampak tidak mendengarkan ketika diajak berbicara langsung
  • Kesulitan mengingat dan mengikuti arahan
  • Sering membuat kesalahan ceroboh dalam suatu kegiatan
  • Lebih memilih untuk menunda-nunda pekerjaan

2. ADHD Hiperaktif / Impulsif

Jenis ADHD hiperaktif / impulsif dikenal sebagai tipe yang lebih mudah dikenali karena perilaku hiperaktifnya yang konsisten dan disertai perilaku impulsif. Jika anak memiliki karakteristik seperti ini, diharapkan orang tua segera mencari solusi agar dapat mendapatkan perawatan lebih awal.

Anak yang mengalami ADHD hiperaktif/ impulsif biasanya memiliki gejala ADHD sebagai berikut:

  • Tidak bisa duduk diam (jatuh dari kursi, duduk berlutut, berdiri disebelah meja dsb)
  • Sangat energik, hampir selalu bergerak
  • Sering menyela dan berbicara tidak pada gilirannya
  • Berlari atau memanjat pada situasi tidak tepat
  • Sulit menerima jika keinginan tidak segara terpenuhi

3. ADHD Kombinasi / Combined type

Merupakan kombinasi dari dua jenis ADHD diatas, jenis ADHD-combined type adalah yang paling umum terjadi. Tidak seperti anak hiperaktif, pada kasus ADHD kombinasi, anak dapat menahan diri dari menggangu orang lain ataupun berbicara lebih tenang. Namun sebenarnya mereka tidak memproses informasi yang diperoleh seperti halnya anak normal.

4. Inattentive Presentation

Anak dinyatakan mengalami ADHD inattentive presentation jika anak tersebut memenuhi kriteria Premoninantly inattentive dan memiliki dua atau lebih dari gejala ADHD hiperaktif-impulsif. Syarat lainnya bahwa anak tersebut harus mengalami gejala ADHD tersebut setidaknya enam bulan.

Penyebab ADHD

Penyebab ADHD belum dapat dipahami secara jelas karena belum ada penyebab tunggal yang telah diidentifikasi menyebabkan ADHD. Para peneliti yang mengeksplorasi kemungkinan faktor genetik dan lingkungan telah menunjukkan bahwa banyak anak ADHD yang memiliki kerabat dekat yang juga mengalami ADHD.

ADHD tidak disebabkan oleh kegiatan parenting, terlalu banyak gula, atau vaksin. Penyebab umum ADHD adalah disfungsi neurologikal dari pada kerusakan otak. Seperti halnya kesulitan belajar, penelitian menunjukkan bahwa hereditas memainkan peranan yang sangat kuat dalam menyebabkan disfungsi neurologikal. Adapun beberapa poin penyebab ADHD adalah sebagai berikut:

  • Area otak yang terkena dampak, adanya ketidaknormalan pada tiga area otak orang-orang yang mengalami ADHD, yaitu lobus prefrontal, lobus frontal, dan basal ganglia. Pada orang dengan ADHD, ukuran ketiga area otak ini sekitar 5% hingga 10% lebih kecil dibandingkan dengan orang normal.
  • Neurotransmitter yang teribat, abnormalitas neurotransmitter dapat menyebabkan ADHD, neurotransmitter merupakan zat kimia yang membantu dalam pengiriman pesan anatara neuron-neuron dalam otak
  • Faktor-faktor herediter, faktor herediter memainkan peran penting sebagai penyebab terjadinya ADHD. Herediter adalah menurunkan penyakit dalam garis keturunan.
  • Kelahiran Prematur, faktor risiko lain mungkin termasuk adalah kelahiran prematur, berat lahir sangat rendah, dan luka-luka ke otak saat lahir.
  • Toksin dan medis, penelitian juga menunjukkan bahwa merokok selama kehamilan dapat menimbulkan resiko ADHD pada anak.

Kriteria Diagnosis ADHD

Karena tidak ada tes khusus yang langsung dapat mendeteksi ADHD, diagnosis dilakukan dengan evaluasi yang lengkap. Banyak kasus ADHD pada anak dievaluasi dan diobati melalui perawatan primer, termasuk menggunakan dokter anak dan dokter keluarga, tetapi adakalanya juga perlu dirujuk ke spesialis seperti psikiater, ahli saraf dan psikolog.

Tim spesialis ini dapat membantu diagnosis ADHD yang diragukan karena ada kekhawatiran tentang adanya gangguan lain seperti kesulitan belajar (learning disability), sindrom Tourette, kecemasan (anxiety), dan depresi.

  • Gejala hiperaktivitas-impulsivitas atau gangguan perhatian muncul sebelum usia 7 tahun
  • Gejala ini muncul dalam dua atau lebih situasi (misal di sekolah dan di rumah)
  • Harus ada bukti jelas gangguan klinis dalam fungsi otak, akademik atau pekerjaan
  • Gejala tidak muncul bersamaan dengan gangguan perkembangan, skizofrenia, gangguan psikotik lain atau gangguan mental.
terapi adhd

Intervensi Pada Penderita ADHD

ADHD adalah gangguan yang tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat berhasil dikelola. Dokter ataupun tim spesialis seperti psikiater dan psikolog dapat membantu memberikan rencana jangka panjang untuk mengontrol perilaku anak ADHD.

Dalam kebanyakan kasus, ADHD lebih baik diobati dengan kombinasi obat-obatan dan terapi perilaku. Oleh sebab itu peran orangtua dan keluarga terdekat sangat dibutuhkan untuk rencana pengobatan anak ADHD. Berikut ini beberapa jenis intervensi untuk penderita ADHD:

1. Farmakoterapi

Farmakoterapi ADHD adalah bentuk penanganan penyakit melalui penggunaan obat-obatan. Beberapa contoh obat ADHD antara lain Menthylpenidate (ritallin) dan Dexamphetamine, keduanya memiliki manfaat sebagai berikut:

  • Meningkatkan fokus perhatian
  • Mencegah gangguan
  • Meningkatkan kemampuan mereka dan membantu mereka bereaksi dengan cara yang lebih normal
  • Mengurangi kegelisahan dan impulsivitas

2. Parent training

Materi pelatihan tentang modifikasi perilaku melalui peran orangtua. Orangtua merupakan lingkungan terdekat yang dapat membantu anak dengan ADHD, sehingga orangtua perlu belajar bagaimana menangani anak ADHD.

3. Classroom Contingency Management

Penerapan modifikasi perilaku di kelas dapat dilakukan untuk mendukung terapi anak ADHD di rumah. Modifikasi perilaku di kelas ini diharapkan dapat mengajarkan anak ADHD untuk berlatih menjalani hidup.