Berisikokah Perilaku Seksual Remaja?

Masa remaja kerap dianggap sebagai masa yang paling indah dalam rentang perkembangan manusia. Namun masa remaja juga penuh dengan tantangan yang harus dihadapi, dimana remaja dihadapkan pada tugas-tugas perkembangan untuk menemukan jati diri mereka. Pada masa inilah seseorang mengalami transisi dari anak-anak menjadi orang dewasa. Ketergantungan remaja terhadap keluarga, terutama orangtua, menjadi berkurang dan mereka mulai mengidentifikasikan diri dengan lingkungan sekitar yang lebih luas. Selain itu, remaja kerap kali ingin mencoba hal-hal yang baru bagi mereka untuk memperoleh pengalaman.

Salah satu hal yang kerap dianggap menarik oleh remaja adalah seksualitas. Seksualitas remaja sendiri adalah perasaan, perilaku dan perkembangan seksual pada remaja dan sebuah tahapan pada perkembangan seksual manusia. Menurut peraturan Menteri Kesehatan RI  no. 25 Tahun 2014, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-19 tahun sedangkan menurut BKKBN, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-24 tahun dan belum menikah.

Remaja mulai penasaran dan mencari-cari informasi tentang hal-hal terkait seksualitas. Namun pada era globalisasi dan dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, informasi yang diperoleh oleh remaja terkait seksualitas rentan bersifat misleading. Selain itu, kurangnya pendidikan seks yang disediakan orangtua dan institusi pendidikan juga menjadi faktor resiko terjadinya perilaku seksual berisiko pada remaja.

Memahami Proses Perilaku Seksual Remaja

Perilaku seksual remaja adalah topik yang tidak pernah habis diperbincangkan. Pada dasarnya perilaku seks adalah hal yang wajar dan pasti dialami oleh semua orang. Namun perilaku seks pada remaja menjadi sebuah masalah ketika dilakukan diluar lembaga pernikahan dan tanpa memperhatikan keamanan dan kesehatan.

Berdasarkan survey kesehatan reproduksi remaja, lebih dari 30% remaja putra dan putri pertama kali berpacaran pada usia dibawah 15 tahun. Pada masa ini remaja belum memiliki life skill yang cukup sehingga mereka berisiko memiliki perilaku berpacaran yang tidak sehat, salah satunya seks pranikah. Ketika dilakukan diluar lembaga pernikahan oleh remaja yang berada dibawah umur, perilaku seks dianggap menyimpang karena tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku.

Selain itu, perilaku seks ini berisiko menyebabkan kehamilan diluar nikah, aborsi dan pernikahan remaja yang akan berdampak egative terhadap masa depan remaja, anak yang dikandung dan juga keluarga. Lebih lanjut, perilaku seks pada remaja biasanya dilakukan dalam rangka “coba-coba”, sehingga banyak remaja yang melakukan aktivitas seks berisiko yang dapat menimbulkan penyakit seksual menular dan HIV/AIDS.

Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Remaja

Pada beberapa penelitian di Indonesia terkait perilaku seksual remaja, ditemukan beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku seks pra nikah pada remaja, diantaranya :

  1. Relijiusitas sangat rendah
  2. Aktifitas Sosial yang sangat tinggi
  3. Penghargaan diri yang sangat rendah
  4. Rasa percaya diri yang rendah
  5. Sikap yang tidak kooperatif terhadap layanan kesehatan seksual & reproduksi
  6. Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi yang rendah; dan
  7. Adanya dukungan sosial terhadap hubungan seksual pra- nikah di lingkungan sekitar.

Dalam penelitian-penelitian tersebut ditemukan pula fakta menarik bahwa presentase remaja laki-laki yang melakukan hubungan seksual diluar pernikahan lebih banyak daripada remaja perempuan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya standar ganda (double standard) dalam tuntutan terhadap pria dan wanita, dimana wanita diharapkan untuk lebih berhati-hati sedangkan pria lebih memiliki kebebasan dalam banyak  hal, termasuk perilaku seksual.

Selain itu, faktor keluarga juga menjadi salah satu faktor pendukung yang penting bagi remaja, dimana pada remaja yang berasal dari keluarga broken home atau tidak memiliki kedekatan dengan orangtuanya, resiko terlibat dalam perilaku seks berisiko menjadi lebih tinggi.

Setelah membaca uraian diatas, kita mengetahui apa itu perilaku seks remaja, faktor-faktor pendorong dan juga akibat yang dapat ditimbulkannya. Selanjutnya tentu kita perlu memahami  hal-hal yang harus diperhatikan untuk menghindari dampak negatif dari perilaku seks berisiko pada remaja, diantaranya:

  • Bimbingan orangtua, pendidik dan juga kontrol masyarakat sangat penting untuk membantu remaja meningkatkan pemahaman terkait perkembangan mereka, edukasi mengenai seks dan kesehatan reproduksi, cara berpacaran yang sehat, penggunaan teknologi informatika secara positif dan juga bagaimana meningkatkan penghargaan terhadap diri sendiri.
  • Sarana prasarana yang bersifat positif dan kreatif untuk menyalurkan dorongan biologis remaja kearah yang membangun, seperti olahraga, kegiatan pecinta alam, kegiatan sosial dan juga kesenian.

Kesimpulannya, untuk menjaga remaja dari pengaruh buruk perilaku seksual berisiko diperlukan kesinambungan antara peran keluarga, utamanya orangtua, lembaga pendidikan, masyarakat sekitar dan tentunya remaja itu sendiri. Perlu disadari bahwa pada masa ini seseorang memiliki berjuta pertanyaan dalam benaknya dan sebagai pembimbing yang baik, orangtua, pendidik dan masyarakat sekitar harus membantu remaja menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan baik dan benar.

Referensi:

Suryoputro, Antono, Ford, Nicholas J., Shaluhiyah, Zahoh. (2006). Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual remaja di jawa tengah: implikasinya terhadap kebijakan dan layanan kesehatan seksual dan reproduksi. Makara Kesehatan Vol. 10 No. 1, Juni 2006: 29-40.

Mayasari, Frida & Hadjam, Noor Rochman M. (2000). Perilaku Seksual Remaja Ditinjau dari Harga Diri Berdasarkan Jenis Kelamin. Jurnal Psikologi 2000, No. 2, 120-127.

https://en.wikipedia.org/wiki/Adolescent_sexuality

http://www.familyfacts.org/briefs/12/teen-sexual-behavior

Reply