Bukankah Delusi Adalah Sebutan Lain Dari Paranoid?

Delusi adalah sebutan lain dari paranoid, jadi ketika orang menyebut istilah paranoid, itu sama artinya dengan kelainan delusional. Kelainan ini adalah sejenis gangguan jiwa serius yang disebut dengan psikosis. Seseorang yang mengalami psikosis biasanya tidak menyadari apa yang sebenarnya selalu dibayangkan. Mereka hanya selalu memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan pada sesuatu yang tidak benar pada kenyataannya. Mereka juga sering merasa ditipu, disaingi dan dibenci oleh orang lain, meskipun pada kenyataannya tidak begitu.

Gangguan delusi merupakan bentuk salah tafsir terhadap persepsi seseorang. Mereka yang mengalami delusi menafsirkan sesuatu yang pada kenyataanya tidak benar; terlalu dilebih-lebihkan. Orang yang memiliki delusi biasanya diganggu dengan kesibukan menghadapi khayalan mereka sehingga apa yang mereka kerjakan sulit terselesaikan, namun ada juga orang dengan delusi yang mampu  menjalani hidup dengan normal dan tidak berperilaku aneh, terlepas dari khayalan mereka.

Gangguan ini memang jarang terjadi dibandingkan gangguan kesehatan mental lainnya karena delusi biasanya menjadi gejala kelainan umum seperti menjadi bagian dari gejala schizophrenia. Apabila berbicara resiko delusi, resiko memiliki delusi lebih besar terjadi pada wanita dibandingkan dengan pria.

Jenis Delusi

Delusi adalah gangguan yang dibedakan menjadi 6 jenis dengan karakteristik yang berbeda satu sama lain. Adapun jenis delusi meliputi:

  • Erotomanik, jenis delusi dimana orang yang mengalami kelainan ini merasa sangat dicintai oleh orang lain, biasanya orang yang dianggapnya penting dan terkenal dikalangannya. Orang yang mengalami delusi erotomanik biasanya mendekati objek khayalannya dengan perilaku mengintai/memata-matai.
  • Grandiose, adalah jenis delusi dimana seseorang merasa memiliki kemampuan lebih dibandingkan orang lain. Dia percaya bahwa dirinya telah membuat penemuan penting dan menjunjung identitasnya secara berlebihan.
  • Cemburu, merupakan jenis delusi yang percaya bahwa pasangannya tidak setia. Dia selalu mendapatkan khayalan tentang ketidaksetiaan pasangan meskipun sebenarnya itu tidak terjadi.
  • Penindasan, jenis gangguan dimana yang mengalami delusi adalah orang yang merasa dianiaya ataupun dimata-matai oleh orang lain. Jenis gangguan ini ditemukan dengan banyaknya keluhan berulang pada pihak yang berwenang.
  • Somatik, merupakan jenis delusi yang mempercayai dirinya memiliki suatu cacat fisik atau masalah medis lainnya, meskipun dia benar-benar tidak mengalami apapun.
  • Campuran, adalah jenis gangguan delusi yang memiliki kombinasi dua tau lebih jenis delusi diatas.

Gejala dan Contoh Delusi

Orang yang memiliki delusi biasanya memiliki sikap yang aneh dibandingkan dengan orang normal. Mereka kadang memiliki gejala delusi berupa emosional yang tidak terkontrol atau sesuatu yang membuat orang lain merasa kenapa sih orang ini. Adapun gejala dan contoh delusi adalah:

  • Suka marah tanpa sebab
  • Sering memiliki mood yang jelek
  • Sering mengalami halusinasi/ kondisi dimana dia merasa, melihat, dan mendengat sesuatu yang tidak ada
  • Kadang berperilaku aneh karena khayalannya
  • Sering berbicara sendiri

Penyebab Delusi

Seperti halnya gangguan psikotik lainnya, delusional adalah gangguan yang belum diketahui secara pasti apa penyebabnya. Meskipun begitu para ahli menganalisa adanya beberapa faktor penting yang bisa menjadi penyebab delusi, antara lain faktor genetika, biologi, lingkungan sekitar/psikologis.

Faktor Genetika

Para ahli mengamati bahwa ada kaitannya antara gangguan delusi dengan gen manusia. Fakta menemukan bahwa delusi adalah gangguan yang sering terjadi pada individu dengan riwayat anggota keluarga yang mengalami delusi atau schizophrenia. Ada kecenderungan bahwa anggota keluarga yang memiliki gangguan mental dapat menurunkan kepada anaknya, meskipun itu tidak terjadi pada semua kasus.

Faktor Biologis

Para ahli mempelajari delusi yang kemungkinan dapat dikembangkan karena adanya kelainan pada fungsi otak. Kelainan fungsi otak dapat menimbulkan persepsi dan pemikiran yang tidak lazim terkait dengan gejala delusi.

Faktor Lingkungan/Psikologis

Para ahli menemukan indikasi bahwa gangguan delusi dapat dipicu oleh faktor lingkungan atau psikologis tertentu seperti stress, sering mengkonsumsi alkohol dan obat terlarang. Resiko yang lebih rentan mengalami delusi adalah imigran dan orang-orang yang terisolasi.

Pengobatan Delusional

Pada umumnya delusi diobati dengan menggabungkan metode pengobatan dan psikoterapi/konseling. Metode pengobatan biasanya menggunakan obat antipsikotik yang pada beberapa kasus mampu menunjukkan perbaikan parsial atas gangguan delusi. Ada tiga jenis obat antipsikotik, berikut penjelasannya:

  • Antipsikotik konvensional, jenis obat yang kadang disebut dengan istilah neuroleptik yang telah digunakan sejak tahun 1950-an. Obat ini bekerja dengan menghalangi reseptor domapin di dalam otak. Dopamin merupakan neurotransmitter yang diyakini terlibat dalam pengembangan delusi.
  • Antipsikotik atipikal, adalah jenis obat delusi yang merupakan obat baru yang efektif dan memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan obat lain. Obat ini bekerja dengan menghalangi reseptor domain dan serotonim dalam otak. Serotonim juga merupakan neurotransmitter lain yang berada di dalam otak yang diyakini juga menyebabkan delusi.
  • Obat lain, obat lain yang digunakan untuk mengatasi delusi adalah obat penenang dan antidepresan. Kedua obat tersebut sebenarnya untuk mengatasi gejala kecemasan/anxiety disorder dan mood yang buruk, dimana itu berpengaruh pada gangguan delusi.

Penggunaan obat akan terbantu dengan adanya metode pengobatan dengan terapi. Psikoterapi akan membantu pasien delusi untuk mengelola dan mengatasi tekanan terhadap delusi. Adapun jenis terapi delusi adalah:

  • Psikoterapi individu, dilakukan dengan cara mengenali langsung bagaimana kondisi pasien dan mencoba memahai pemikiran mendasar yang telah terdistorsi agar dikembalikan pada sesuatu yang benar.
  • Cognitive-behavioral therapy (CBT), terapi yang mengajak pasien untuk belajar mengubah pola pikir dari negatif ke positif dan melakukan penyesuaian perilaku yang menyebabkan terjadinya delusi.
  • Terapi Keluarga, terapi yang digunakan untuk membantu keluarga dalam menangani anggota keluarga yang memiliki delusi. Terapi ini biasanya digunakan untuk menunjukkan bagaimana keluarga bisa berkontribusi membantu mengobati anggota keluarga yang mengalami delusi.

Apabila orang yang mengalami delusi sudah pada tingkat dan gejala yang parah, dimana dia berisiko menyakiti dirinya sendiri atau anggota keluarga lainnya. Sangat disarankan untuk membawanya ke rumah sakit untuk penanganan yang lebih intens hingga kondisinya kembali stabil. Delusi adalah gangguan psikotik yang berbahaya jika tidak ditangani dengan benar, oleh sebab itu dukungan dari semua pihak menjadi sangat berharga.