Depresi adalah Gangguan Mood Sesuai DSM-5

Depresi adalah gangguan kesehatan mental yang berkaitan dengan mood / suasana hati. Menurunnya suasana hati / mood adalah hal yang wajar, namun ketika seseorang mengalami hal tersebut dalam jangka waktu yang lama dan mempengaruhi kehidupannya maka perlu segara ditangani.

Perubahan mood yang berupa suasana hati yang rendah sering disebut dengan depresi ringan. Pada fase depresi ringan, seseorang masih dapat menjalani kehidupan normalnya, hanya saja terasa lebih sulit. Sedangkan pada tingkat yang paling parah, seseorang merasa ingin mengakhiri hidup karena sudah putus asa dengan kondisinya.

Apa Itu Depresi?

Depresi adalah gangguan suasana hati yang lebih dari perasaan sedih. Seseorang yang mengalami depresi akan merasa tidak termotivasi, putus asa dan kehilangan minat pada aktivitas sehari-hari.

Gangguan suasana hati tersebut baru bisa didiagnosis sebagai gangguan depresi jika gejalanya bertahan selama setidaknya dua minggu dan mengakibatkan terganggunya aktivitas sehari-hari. Selain mengalami masalah emosional, orang yang didiagnosis depresi dapat mengalami gejala fisik seperti nyeri kronis dan masalah pencernaan.

depresi adalah gangguan mood serius

Ciri-Ciri & Gejala Depresi

Melalui panduan The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5), The American Psychological Association (APA) memberikan beberapa kriteria diagnostik / gejala depresi untuk memudahkan dokter dan psikiater dalam mendiagnosis depresi.

Adapun kriteria diagnostik / gejala depresi adalah sebagai berikut:

  1. mengalami penurunan suasana hati / mood hampir sepanjang hari hingga setidaknya selama dua minggu,
  2. mengalami penurutan minat pada aktivitas sehari-hari,
  3. mengalami penurunan bedat badan yang signifikan meskipun tidak sedang diet,
  4. mengalami permasalahan tidur seperti insomnia atau hypersomnia hampir setiap hari,
  5. penurunan kemampuan berpikir dan gerakan melamban (berdasarkan pengamatan orang lain, bukan perasaan subyektif),
  6. mengalami kelelahan dan kehilangan energi hampir setiap hari,
  7. merasa tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebih,
  8. kesulitan berkonsentrasi dan berkurangnya kemampuan berpikir,
  9. sering memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup.

Sesuai panduan DSM-5, seseorang mengalami depresi jika orang tersebut setidaknya mengalami 5 gejala depresi dan kondisi tersebut berlangsung lebih selama periode dua minggu yang sama. Dari 5 jenis kriteria yang disebutkan, setidaknya satu dari gejala depresi tersebut berupa penurunan suasana hati atau kehilangan minat.

Jenis Depresi

Dalam buku panduan DSM-5 juga dikategorikan beberapa jenis depresi. Hal ini karena bentuk depresi mungkin akan bervariasi baik dalam hal durasi, waktu, dan dugaan penyebab. Setiap jenis depresi tersebut juga memiliki penanganan yang berbeda.

Sembilan jenis depresi yang dikategorikan dalam DSM-5 untuk gangguan depresi adalah:

1. Gangguan Depresi Mayor / Major Depressive Disorder (MDD)

Depresi mayor / major depressive disorder (MDD) adalah jenis depresi yang paling umum terjadi. Pengertian depresi ini biasanya digunakan untuk menyebutkan istilah depresi klinis. Gangguan depresi mayor ini ditandai dengan beberapa gejala seperti:

  • menurunnya suasana hati,
  • mengalami penurunan minat pada apa yang biasanya disukai,
  • mengalami penurunan berat badan
  • perubahan pola tidur, baik mengalami insomnia atau hypersomnia
  • kelelahan
  • merasa tidak berharga atau merasa bersalah,
  • kesulitan berkonsentrasi,
  • memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup.

2. Gangguan Depresi Persisten / Persistent Depressive Disorder

Gangguan depresi persisten / persistent depressive disorder . adalah istilah baru yang menggantikan dysthymia. Pada panduan DSM-5 yang dikeluarkan pada tahun 2013, dysthymia dihapus dan digantikan dengan istilah gangguan depresi persisten.

Seseorang yang mengalami gangguan depresi persisten biasanya memiliki karakteristik seperti:

  • merasa putus asa,
  • produktivitas menurun,
  • memiliki self-esteem / harga diri yang rendah,
  • kehilangan minat pada aktivitas sehari-hari.

Gangguan depresi persisten mengacu pada jenis depresi kronis yang terjadi lebih dari dua tahun. Dalam gangguan persisten ini, seseorang mungkin akan mengalami depresi ringan, sedang atau berat. Jika telah mengalami selama dua tahun maka disebut depresi persisten.

3. Gangguan Bipolar

Pada dasarnya gangguan bipolar berbeda dengan depresi. Alasan kenapa bipolar masuk kedalam jenis depresi adalah karena seseorang yang mengalami bipolar biasanya mengalami perubahan suasana hati yang rendah dan memenuhi kriteria untuk depresi berat.

Seseorang yang mengalami bipolar juga dapat mengalami perubahan suasana hati yang sangat tinggi / euforia atau mudah tersinggung (disebut dengan episode manik). Selain itu ia juga bisa mengalami perubahan yang tidak terlalu parah yang biasa disebut dengan episode hipomania.

Seseorang yang mengalami depresi bipolar biasanya menunjukkan gejala fisik sebagai berikut:

  • mudah marah dan gelisah,
  • selalu ragu dalam mengambil keputusan dan hidupnya disorganisasi,
  • putus asa dan hilangnya harga diri,
  • mudah lelah, susah tidur dan lesu,
  • sakit, nyeri, dan agitasi psikomotor yang tidak dapat dijelaskan.

Seseorang dengan gangguan depresi bipolar memiliki risiko 15 kali lebih besar untuk mengakhiri hidup. Pada beberapa kasus, gejala psikosis seperti halusinasi dan delusi juga terlihat pada seseorang yang mengalami bipolar ekstrem.

4. Depresi Postpartum / Pascapersalinan

Depresi postpartum adalah gangguan depresi pascapersalinan. Kehamilan dapat menyebabkan perubahan hormon yang cukup signifikan pada wanita. Hal ini seringkali mempengaruhi suasana hati seorang wanita.

Depresi postpartum jauh lebih serius jika dibandingkan dengan baby blues. Baby blues adalah gejala depresi dan kecemasan yang relatif lebih ringan yang biasanya akan hilang setelah dua minggu melahirkan.

Depresi postpartum dapat ditandai dengan gejala fisik seperti:

  • kelesuan,
  • kesedihan berkepanjangan,
  • kebingungan,
  • halusinasi,
  • delusi.

Wanita yang mengalami depresi postpartum dengan memiliki gejala psikosis seperti halusinasi dan delusi sangat disarankan untuk segera mendapatkan perawatan medis hingga perawatan psikosis pascapersalinan.

5. Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD)

Gangguan dysphoric pramenstruasi / premenstrual dysphoric disorder (PMDD) adalah depresi berat yang biasanya muncul selama paruh kedua dalam siklus menstruasi.

Gangguan ini hampir sama dengan sindrom pramenstruasi / premenstrual syndrome (PMS). Hanya saja pada kasus PMDD, wanita akan mengalami gejala perubahan suasana hati yang lebih jelas, seperti:

  • kelelahan ekstrim,
  • sifat cepat marah,
  • sulit berkonstentrasi,
  • perasaan stres dan kecemasan yang parah (anxiety disorder),
  • merasa sedih dan putus asa,
  • mengidam makanan tertentu.

6. Seasonal Affective Disorder (SAD)

Gangguan afektif musiman / seasonal affective disorder adalah gangguan depresi yang terjadi pada periode tertentu saja. Seseorang yang mengalami SAD akan memiliki gejala musimam seperti :

  • depresi,
  • cepat mengantuk,
  • kenaikan berat badan

Gejala tersebut hanya terjadi pada musim dingin, namun baik-baik saja atau akan kembali normal lagi pada saat musim semi.

Gangguan ini adalah jenis depresi yang terjadi karena kurangnya sinar matahari alami. Beberapa orang mungkin lebih sensitif terhadap jumlah cahaya yang lebih rendah di musim dingin dibandingkan orang normal.

Kasusnya banyak terjadi pada belahan bumi paling utara dan selatan, dimana kadang pada musim tertentu jarang ditemui sinar matahari alami. Gangguan SAD sering disebut sebagai depresi mayor dengan pola musiman dan dapat diobati menggunakan terapi cahaya.

7. Depresi Atipikal

Depresi atipikal adalah gangguan depresi yang berkaitan dengan perubahan suasana ekstrem ketika mendapat sesuatu yang negatif namun tiba-tiba bersemangat ketika menghadapi peristiwa positif.

Seseorang yang mengalami gangguan depresi atipikal ini biasanya memiliki gejala seperti:

  • tidur berlebihan,
  • makan berlebihan,
  • mengalami kelelahan,
  • memiliki perasaan terbebani,
  • sensitivitas yang tinggi terhadap segala bentuk penolakan,
  • suasana hati yang reaktif.

8. Depresi Psikotik

Depresi psikotik adalah jenis depresi berat yang sangat parah yang pada akhirnya muncul beberapa bentuk psikosis. Bentuk psikotik dalam depresi adalah sebagai berikut:

  • halusinasi (melihat atau mendengat hal-hal yang sebenarnya tidak ada),
  • delusi (keyakinan yang salah),
  • padanoid (selalu berpikir bahwa orang lain akan menyakitinya).

Munculnya gejala psikotik biasanya diketenakan pada saat mengalami depresi berat, orang akan menjadi katatonik dan merasa terjebak pada kondisi tertentu, sehingga munculah sifat psikosis dalam diri orang tersebut.

9. Depresi Situasional

Depresi situsional adalah jenis depresi yang biasanya berkaitan dengan peristiwa yang sangat mengubah hidup seseorang. Peristiwa itu bisa berupa perceraian, kehilangan pekerjaan atau kematian anggota keluarga dan teman dekat.

Depresi situasional terjadi ketika seseorang mengalami perubahan suasana hati tertekan ketika ia kesulitan dalam mengelola stres tersebut. Hal inilah yang membuat banyak dokter menyebut bahwa gangguan ini adalah sindrom respon terhadap stres.

Penyebab Depresi

Ada beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab depresi. Mulai dari faktor biologis hingga faktor kehidupan yang dijalani seseorang. Penyebab depresi sangat bervariasi, berikut ini beberapa penyebab paling umum:

  • Faktor keluarga, seseorang memiliko resiko lebih tinggi mengalami depresi jika dalam satu keluarga memiliki riwayat dengan depresi atau gangguan mood lainnya,
  • Trauma masa kecil, beberapa peristiwa masa kecil dapat berdampak pada bagaimana cara tubuh bereaksi terhadap rasa takut dan situasi yang memicu stres,
  • Kondisi medis, memiliki penyakit kronis, insomnia, ADHD dapat membuat seseorang memiliki gangguan depresi,
  • Struktur otak, penyebab depresi dapat terjadi karena kondisi lobus frontal otak yang kurang aktif,
  • Penggunaan narkoba dan alkohol, penyalahgunaan obat-obat terlarang dan alkohol dapat menjadi penyebab depresi.

Cara Mengatasi Depresi

Depresi adalah gangguan yang dapat disembuhkan baik dengan menggunakan obat-obatan, psikoterapi atau kombinasi dari keduanya. Perlu diketahui juga bahwa cara mengatasi depresi mungkin sangat individual, yang artinya apa yang berhasil untuk satu orang belum tentu berhasil untuk orang lain.

1. Psikoterapi

Psikoterapi adalah cara mengatasi depresi yang melibatkan terapis untuk mengobati depresi. Ada beberapa jenis psikoterapi yang dikenal efektif untuk depresi:

  • Terapi interpersonal, merupakan terapi depresi yang memiliki durasi relatif singkat dan sangat terstruktur. Terapi ini membantu pasien meningkatkan keterampilan, seperti keterampilan komunikasi dan keterampilan penyelesaian konflik.
  • Terapi perilaku kognitif, merupakan cara mengatasi depresi dengan fokus membantu pasien mengidentifikasi dan mengganti distorsi kognitif dan pola perilaku yang memperkuat perasaan depresi.
  • Terapi psikodinamik, jenis psikoterapi yang sering ditampilkan dalam film atau budaya pop. Terapi ini membantu pasien mengeksplorasi luka emosional yang tidak disadari / belum sembuh sejak masa lalu. Tujuannya adalah untuk membantu pasien mempelajari bagaimana depresi tersebut terkait dengan pengalaman masa lalu dan konflik yang belum terselesaikan.
  • Terapi cahaya, terapi ini biasanya digunakan sebagai cara mengatasi depresi musiman / seasonal affective disorder (SAD). Penggunaan paparan cahaya putih dapat membantu mengatur suasana hati dan mengurangi gejala depresi.

2. Obat-obatan

Ada beberapa jenis obat yang dapat membantu mengatasi depresi. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, penggunaan obat ini paling efektif jija digunakan bersamaan dengan psikoterapi. Adapun beberapa jenis obat depresi adalah sebagai berikut:

  • Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs), adalah jenis antidepresan. Penggunaan MAOI biasanya disertai dengan mengikuti batasan diet tertentu untuk mencegah reaksi yang dapat menyebabkan tekanan darah tinggi.
  • Tricyclic antidepressants (TCAs), juga merupakan jenis antidepresan generasi awal yang dapat mengurangi gejala depresi. Antidepresan ini memiliki efek samping yang lebih banyak dibandingkan dengan antidepresan baru tetapi dapat lebih efektif untuk pasien tertentu.
  • Selective serotonin reuptake inhibitor (SSRIs), adalah obat yang paling umum diresepkan untuk depresi saat ini. Dibandingkan dengan jenis antidepresan lainnya, SSRI cenderung memiliki efek samping yang lebih sedikit. SSRI tidak boleh diresepkan bersamaan dengan MAOI karena memiliki potensi menyebabkan sindrom serotonin.
  • Serotonin dan norepinefrin reuptake inhibitor (SNRIs), jenis antidepresan yang lebih baru yang cara mengatasi depresinya hampir sama dengan SSRI.

Menggabungkan penggunaan obat-obatan dan terapi gaya hidup untuk depresi adalah cara mengatasi depresi yang cukup efektif. Selalu konsultasikan pada dokter dan ahli sebelum menjalani pengobatan dan terapi.