Diagnosis dan Pencegahan Keterbelakangan Mental?

Keterbelakangan mental bukanlah penyakit, namun kondisi seseorang dengan keterbatasan karena berbagai banyak penyebab. Seseorang dengan keterbelakangan bukan berarti dia tidak mampu untuk melakukan apa yang biasa orang normal lakukan. Hanya saja mereka sedikit lebih lambat prosesnya. Tidak jarang juga seseorang dengan keterbatasan justru memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang normal.

Keterbelakangan mental dalam psikologi sering disebut dengan istilah retardasi mental. Orang juga sering menggunakan istilah tuna grahita/disabilitas intelektual. Keterbelakangan bisa terjadi karena pengaruh genetika, infeksi pada saraf otak dan ada juga karena masalah yang didapatkan saat mereka berada dalam kandungan ibunya.

Bagaimana Mendiagnosis Keterbelakangan Mental?

Diagnosis bisa dilakukan sejak masih bayi. Apabila pada bayi ditemukan dugaan kelainan fisik yang berupa kelainan metabolisme dan genetika. Dokter bisa melakukan berbagai tes untuk mengkonfirmasi diagnosis tersebut. Tes yang dilakukan biasanya berupa tes darah, tes urine, tes pencitraan untuk mengetahui permasalah struktural dalam otak hingga tes electroencephalogram (EEG) untuk mengetahui mengapa bayi mengalami kejang.

Tes secara bertahap dilakukan untuk mengalanisa dan mengeliminasi beberapa dugaan masalah lain. Anak dengan keterbatasan perkembangan akan dites melalui prosedur tertentu untuk memastikan bahwa anak tersebut tidak mengalami masalah pendengaran atau gangguan neurologis tertentu. Setelah tidak ditemukan gangguan pendengaran / neurologis lain maka baru dirujuk untuk pengujian formal.

Pengujian bisa berdasarkan 3 faktor penting, yaitu : wawancara dengan orangtua, observasi anak dan pengujian kecerdasan dan perilaku adaptif pada anak. Wawancara terhadap orangtua digunakan untuk mengetahui apakah ada unsur keturunan atau tidak. Observasi anak dibutuhkan untuk memahami perilaku anak dan pengujian kecerdasan digunakan untuk memastikan apakah anak tersebut mengalami keterbatasan atau tidak.

Anak dengan keterbelakangan mental biasanya memiliki nilai IQ dan perilaku adaptif yang rendah. Apabila hanya salah satu dari nilai IQ atau perilaku adaptif yang rendah maka anak tidak bisa dianggap memiliki keterbelakangan. Nilai IQ rendah didefinisikan dengan nilai IQ yang kurang dari 70.

Setelah anak dianggap memiliki keterbelakangan mental maka tim ahli akan memberikan pengarahan mengenai nilai kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh sang anak. Panduan ini dapat membantu orangtua untuk mengetahui jenis dukungan yang dibutuhkan untuk berhasil di rumah, sekolah dan kehidupan di masyarakat.

anak dengan keterbelakangan mental

Apakah Keterbelakangan Mental Dapat Dicegah?

Ada beberapa penyebab keterbelakangan mental yang dapat dicegah atau setidaknya meminimalisir kejadian tersebut. Berikut ini beberapa penyebab keterbelakangan mental yang dapat dicegah secara dini:

  1. Konsumsi alkohol pada ibu hamil
    Penyebab yang paling umum untuk dicegah adalah sindrom alkohol pada janin. Wanita hamil tidak semestinya mengkonsumsi alkohol ataupun selalu dekat dekan alkohol. Wanita hamil sebaiknya mendapat perawatan prenatal yang tepat, memperoleh vitamin prenatal yang tepat dan mendapatkan vaksinasi terhadap beberapa penyakit menular yang bisa menghindarkan anak mengalami keterbelakangan mental sejak lahir.
  2. Faktor genetik
    Faktor Genetik sebenarnya dapat dicegah secara dini. Pengujian genetik dapat dilakukan pada pernikahan yang mungkin direkomendasikan sebelum konsepsi. Hal ini untuk mencegah kelainan genetik pada anak.

Tes tertentu, seperti USG dan amniocentesis, juga dapat dilakukan selama kehamilan untuk mencari masalah yang terkait dengan keterbelakangan mental. Meskipun tes ini mungkin mengidentifikasi masalah sebelum kelahiran, dan tes tersebut tidak dapat mengobatinya.

Reply