Fase dan Prinsip Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif atau sering disebut dengan cooperative learning merupakan metode pembelajaran yang menggunakan bantuan teman sebaya dalam proses belajar. Biasanya guru membentuk kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota 4 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda ataupun berpasangan. Pembentukan kelompok bertujuan agar masing-masing siswa terlibat dalam menyelesaikan tugas dengan dibantu oleh teman dalam satu kelompok.

Model pembelajaran kooperatif menuntut adanya kerjasama dan interdependensi (saling ketergantungan) antar siswa dalam proses pengerjaan tugas, pencapaian tujuan dan reward yang didapat. Siswa dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong untuk mengerjakan tugas bersama-sama dan mengkoordinasikan usaha menyelesaikan tugas tersebut bersama dengan anggota kelompok. Siswa dalam kelompok tersebut saling tergantung (interdependen) untuk mendapatkan reward, apabila mereka sukses sebagai kelompok.

Pembelajaran koopreatif dapat ditandai dengan adanya beberapa fitur sebagai berikut:

  • Siswa bekerja dalam kelompok/tim untuk mencapai tujuan belajar.
  • Setiap kelompok terdiri dari anggota dengan prestasi akademik yang berbeda-beda (tinggi, sedang, rendah).
  • Apabila memungkinkan, kelompok terdiri dari berbagai ras, gender dan agama yang berbeda.
  • Sistem reward yang digunakan berorientasi pada kelompok dan individu.

Model pembelajaran kooperatif ini dikembangkan untuk mencapai minimal tiga tujuan penting, yaitu: prestasi akademis; toleransi dan penerimaan terhadap keragaman; serta pengembangan keterampilan sosial.

Fase Pembentukan Model Pembelajaran Kooperatif

Proses pembelajaran kooperatif mendorong siswa agar mampu berkolaborasi dengan orang lain dengan perbedaan kemampuan yang mereka miliki dan belajar keterampilan sosial melalui koordinasi penyelesaian tugas bersama teman. Selain itu, siswa didorong untuk berperan aktif dalam memutuskan apa yang seharusnya dipelajari dan bagaimana cara menyelesaikan tugas yang diberikan.

Arends (2008) dalam bukunya learning to teach menjelaskan bahwa terdapat 6 fase atau langkah utama dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:

  • Pelajaran dimulai dengan guru memberikan penjelasan terkait tujuan pelajaran dan membangkitkan motivasi belajar siswa.
  • Kemudian guru memberikan presentasi informasi berbentuk teks, agar siswa dapat lebih mencermati informasi yang diberikan.
  • Siswa-siswa diorganisasikan dalam kelompok-kelompok.
  • Pemberian tugas pada kelompok, siswa berkerja sama dalam kelompok yang didampingi oleh guru dalam menyelesaikan tugas yang diberikan.
  • Setelah tugas selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasil akhir tugas, dan menguji segala sesuatu yang telah dipelajari siswa.
  • Pemberian apresiasi atau pengakuan atas usaha kelompok ataupun individu yang telah dilakukan dalam menyelesaikan tugas.

Prinsip Model Pembelajaran Kooperatif

Dalam pelaksanaan pembelajaran, seorang guru dapat memilih beberapa metode pendekatan sesuai dengan kondisi siswa yang dihadapi. Model pembelajaran kooperatif menawarkan beberapa bentuk metode pendekatan dengan prinsip pembelajaran kooperatif, diantaranya:

Student Teams Achievement Divisions (STAD)

Guru yang menggunakan STAD menyajikan informasi materi pelajaran baru kepada siswa setiap minggu atau secara regular melalui presentasi verbal ataupun teks. Siswa dibagi dalam kelompok yang terdiri dari gender, ras, etnis, serta kemampuan akademis yang berbeda-beda. Setiap anggota kelompok menggunakan lembar kerja ataupun alat belajar lain untuk menguasai materi pelajaran. Kemudian antar anggota kelompok saling membantu dalam mempelajari materi melalui tutoring sebaya, saling memberikan kuis atau diskusi kelompok.

Setiap individu di dalam kelas diberi kuis mingguan terkait dengan materi yang dipelajari. Kemudian setiap siswa akan mendapatkan “skor kemajuan” dari hasil kusi setiap minggu. Skor kemajuan ini bukanlah nilai absolut dari setiap kuis yang diberikan, melainkan seberapa banyak skor itu bertambah dari jumlah skor sebelumnya.

Jigsaw

Pada metode jigsaw, setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk menguasai salah satu bagian materi pelajaran dan kemudian mengajarkan bagian yang telah dipelajari pada anggota lain dalam kelompok. Metode pembelajaran jigsaw akan dijelaskan pada artikel Metode Pembelajaran Jigsaw.

Groups Investigations (GI)

Grup investigasi akan membagi siswa dalam kelompok berdasarkan tema atau topik materi pelajaran yang diminati siswa. Siswa memilih topik-topik yang ingin dipelajari, kemudian melakukan investigasi mendalam terhadap sub-sub topik yang telah dipilih bersama dengan teman-teman satu kelompok, dan kemudian mempresentasikan laporan kepada seluruh kelas. Sharan dan kawan-kawan (1984, dalam Arends, 2008) menjelaskan 6 langkah Groups Investigations:

  • Pemilihan topik, siswa memilih sub-subtopik pada bidang permasalahan yang telah diterangkan oleh guru. Kemudian siswa diorganisasikan dalam kelompok yang heterogen dengan jumlah 2-6 orang setiap kelompok.
  • Siswa dan guru merencanakan prosedur, tugas dan tujuan belajar yang sesuai dengan subtopik yang telah dipilih.
  • Implementasi, siswa melaksanakan rencana belajar yang telah disusun pada langkah kedua. Guru mengikuti dan mendampingi perkembangan setiap kelompok.
  • Analisis dan sintesis, siswa melakukan analisis dan evaluasi terhadap data informasi yang diperoleh dari berbagai sumber. Kemudian siswa merencanakan bagaimana data dirangkum dengan menarik untuk dipresentasikan pada teman sekelas.
  • Presentasi produk akhir, setiap kelompok mepresentasikan subtopik yang telah dipelajari kepada teman-teman lain agar semua siswa memiliki perspektif yang lebih luas terkait sebuah topik.
  • Evaluasi, pada setiap subtopik yang dipelajari oleh kelompok akan mendapatkan masukan, pertanyaan dan evaluasi dari teman kelompok dengan subtopik yang berbeda dan dari guru. Sehingga setiap kelompok berkontribusi pada pembahasan satu topik besar yang sedang dipelajari.

 

Referensi
Arends, R.I. (2008). Learning to Teach, Belajar untuk Mengajar edisi ketujuh buku dua. Penerjemah Helly Prajitno S. dan Sri Mulyantini S. Yogyakarta: Putaka Pelajar.

Salvin, R.E. (2011). Psikologi Pendidikan: Teori dan Praktik Edisi Kesembilan, Jilid 2. Penerjemah Marianto Samosir. Jakarta: Indeks.