Memahami Retardasi Mental dari Aspek Psikologi

Retardasi mental atau dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan keterbelakangan mental / tuna grahita merupakan salah satu masalah psikologi. Keterbelakangan mental juga dikenal dengan istilah disabilitas intelektual / Intellectual Disability. Seseorang yang memiliki disabilitas intelektual ditandai dengan tingkat kecerdasan yang berada dibawah rata-rata.

Tingkat kecerdasan dibawah rata-rata bukan berarti seseorang tersebut tidak bisa belajar sama sekali. Mereka adalah orang yang dapat mempelajari keterampilan baru, hanya saja prosesnya lebih lambat dibandingkan orang normal. Pertanda awal yang biasanya ditemukan adalah terkadang salah satu dari mereka tidak mampu untuk berbicara ataupun menulis saat sudah menginjak umur 10 tahun. Pertanda lainnya bisa ditemukan jika mereka ternyata tidak tahu bagaimana cara berpakaian atau bagaimana bertindak seperti orang lain disekitarnya.

Pengertian Retardasi Mental

Retardasi mental adalah gangguan psikologi yang ditandai dengan kecerdasan atau kemampuan mental yang berada di bawah rata-rata. Anak dengan disabilitas intelektual biasanya kurang memiliki keterampilan yang diperlukan untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Ketidakmampuan seseorang untuk belajar dan melakukan keterampilan umum layaknya manusia normal diusianya merupakan pertanda seseorang memiliki keterbatasan. Keterbatasan pada orang yang mengalami disabilitas intelektual dibagi menjadi dua aspek penting, yaitu:

  1. Fungsi Intelektual

Biasanya kita menggunakan istilah IQ (intelligence quotient) untuk menjabarkan apa itu fungsi intelektual. Tingkat nilai IQ bergantung pada kemampuan seseorang untuk belajar, memberikan alasan, membuat keputusan dan memecahkan masalah.

Tes IQ dapat membantu kita mengetahui keterbatasan seseorang. Orang normal akan memiliki nilai IQ rata-rata 100, dimana mayoritas orang mendapatkan nilai 85 atau 115. Seseorang yang memiliki retardasi mental biasanya memiliki IQ kurang dari 70.

  1. Perilaku Adaptif

Perilaku adaptif didefinisikan sebagai keterampilan seseorang untuk bersosial dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku adaptif ini diperlukan untuk berinteraksi dengan orang lain dan bagaimana mengurus dirinya sendiri.

Seseorang yang memiliki disabilitas intelektual biasanya lambat dalam mengikuti apa yang dilakukan oleh orang disekitarnya. Tes perilaku adaptif bisa dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang mengalami retardasi mental. Biasanya spesialis akan mengamati keterampilan seseorang dan melakukan perbandingan dengan orang yang seumuran.

Hal-hal yang biasanya diamati dalam tes perilaku adaptif diantaranya bagaimana cara dia makan, bagaimana dia berpakaian, bagaimana dia berkomunikasi, apakah bisa memahami orang lain dan bagaimana dia berinteraksi dengan keluarga dan teman seumurannya.

Menurut WebMD, disabilitas intelektual ini akan mempengaruhi 1% dari populasi. Dimana mereka yang terkena dampak, 85%-nya terjadi pada tingkat disabilitas intelektual ringan.  Hal ini berarti bahwa mereka hanya sedikit lebih lambat dalam mempelajari keterampilan baru bila diukur dari umur rata-rata.

Inilah yang menjadi pendorong bagi orangtua yang memiliki anak dengan disabilitas intelektual agar selalu memberi dukungan terhadap anaknya. Melalui dukungan penuh, mereka akan tumbuh besar dengan hidup mandiri sebagai orang dewasa.

retardasi mental anak

Gejala Retardasi Mental Pada Anak-Anak

Ada banyak hal yang bisa dikatakan sebagai gejala/tanda-tanda seseorang mengalami disabilitas intelektual. Gejala tersebut bisa diketahui sejak masih bayi, namun adapula yang baru diketahui ketika dia sudah masuk sekolah. Kondisi ini tergantung pada tingkat keparahan disabilitas intelektual. Berikut ini gejala paling umum seseorang mengalami disabilitas intelektual :

  • Kesulitan dalam mengingat sesuatu
  • Lambat untuk menguasai hal-hal yang sebenarnya mudah, seperti berpakaian, makan tanpa disuapi
  • Terlambat berbicara atau mengalami kesulitan dengan berbicara
  • Sering mengamuk tanpa alasan pasti
  • Ketidakmampuan untuk menghubungkan tindakan dengan konsekuensi
  • Kesulitan dengan pemecahan masalah atau pemikiran logis
  • Sering berguling-guling sendiri, berjalan-jalan ketika yang lain duduk dikelas.

Pada anak-anak dengan retardasi mental berat, akan ditemui gangguan lain seperti kejang, masalah penglihatan, penurunan keterampilan motorik, masalah mood atau gangguan seperti anak berkebutuhan khusus lainnya seperti anxiety, down syndrome, dan autism.

Penyebab Retardasi Mental

Sebagian besar penyebab disabilitas intelektual berasal dari gangguan perkembangan otak. Meskipun begitu ternyata penyebab yang dikarenakan oleh gangguan otak hanya sepertiga dari penyebab spesifik disabilitas intelektual. Berikut ini penyebab paling umum :

  1. Faktor Genetik

Faktor genetik ternyata merupakan salah stau penyebab keterbelakangan mental. Orang yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit ini akan menurunkan resiko kepada keturunannya. Seseorang dengan keluarga yang memiliki gangguan ini diharapkan memberi dukungan penuh untuk mendampinginya.

  1. Masalah Pada Masa Kehamilan

Kebiasaan buruk seorang ibu dimasa kehamilan juga menjadi salah satu penyebab cacat intelektual. Kebiasaan seperti merokok, menggunakan narkoba dan alhohol menjadi penyumbang penyebab yang paling besar. Adapun penyebab lainnya disebabkan karena kekurangan gizi, preeklamsia atau terjadi infeksi pada masa kehamilan.

  1. Masalah Saat Melahirkan

Selain masalah saat masa kehamilan, proses melahirkanpun juga ditengarai sebagai penyebab retardasi mental. Seorang bisa mengalami cacat ketika saat proses melahirkan dia kekurangan oksigen. Penyebab lain yaitu kelahiran prematur. Kelahiran prematur dapat menyebabkan fungsi saraf otak tidak bekerja sebagaimana mestinya.

  1. Sakit atau Cedera

Infeksi seperti meningitis, batuk rejan, atau campak dapat menyebabkan cacat intelektual. Cedera parah kepala, busung lapar, infeksi di otak, paparan zat beracun seperti timbal juga dapat menyebabkan seorang anak mengalami keterbelakangan mental.

  1. Tidak Diketahui Penyebabnya

Adakalanya ditemukan anak yang mengalami retardasi mental namun tidak diketahui penyebabnya. Keempat gejala diatas tidak terjadi pada anak tersebut. Menurut para ahli terdapat dua-pertiga dari anak yang mengalami cacat intelektual yang tidak diketahui penyebabnya.

Peranan Orangtua Untuk Anak dengan Retardasi Mental

Memiliki anak dengan retardasi mental seharusnya tidak membuat orangtua marah, putus asa ataupun saling menyalahkan. Anak dengan cacat intelektual masih dapat mempelajari hal baru dalam hidupnya, sehingga dukungan orangtua sangat diharapkan dalam proses pembentukan jati diri dan kedewasaan anak.

Berikut ini langkah-langkah yang bisa diambil oleh orangtua yang memiliki anak dengan keterbelakangan mental :

  1. Belajar segala sesuatu tentang cacat intelektual

Belajar akan membuat seseorang menjadi lebih tahu. Dengan belajar mengenai apa yang sedang dihadapi akan membuat orangtua memahami bagaimana mendidik anak dan menghindari apa yang seharusnya tidak diberikan kepada anaknya.

  1. Mengajarkan kemandirian kepada anak

Jangan terlalu over-protective kepada anak. Izinkanlah mereka untuk mencoba hal-hal baru dengan cara dia sendiri. Mendorong anak untuk melakukan hal-hal baru tanpa banyak intervensi akan membuat kepercayaan diri seorang anak menjadi lebih baik.

Berikan bimbingan hanya ketika dibutuhkan dan hadirlah untuk memberikan penghargaan jika anak tersebut dapat menguasai hal baru dengan jerih payahnya sendiri.

  1. Mengajak anak terlibat dalam kegiatan kelompok

Mengikuti kegiatan kelompok dapat membantu anak membangun keterampilan sosial. Contoh kegiatan kelompok yang bisa diikuti oleh anak antara lain kelas seni ataupun pramuka. Kegiatan kelompok ini bisa mengenalkan anak bagaimana harus bertindak dan bersosialisasi dengan orang lain.

  1. Usahakan selalu terlibat dalam kegiatan anak

Keterlibatan orangtua terhadap kegiatan anak dapat memotivasi dalam pendidikannya. Hanya saya perlu batasan dimana orang tua hanya memberikan bimbingan jika diperlukan dan bukannya sebagai pengatur anak. Berhubungan degan guru akan membantu orangtua mengetahui perkembangan dan kemajuannya di sekolah. Hal itu kemudian dijadikan sebagai langkah evaluasi pendidikan dirumah.

  1. Berkenalan dengan orang tua lain yang memiliki retardasi mental

Berkenalan dengan orangtua yang juga memiliki anak dengan kondisi yang sama akan memberikan banyak manfaat. Mereka bisa memberi banyak tips dan nasihat serta dukungan emosional yang mungkin tidak didapatkan ditempat lain

Reply