Mengapa Sering Terjadi Konflik Sosial di Indonesia?

Setiap manusia yang hidup di dunia tidak bisa terlepas dari konflik. Baik dari konflik yang disebabkan oleh dirinya sendiri ataupun orang lain. Saat ini banyak terjadi konflik sosial di Indonesia, konflik semacam ini cenderung memberikan dampak yang tidak diinginkan. Meskipun begitu, manusia harus selalu siap untuk menghadapi konflik dan menyelesaikannya dengan cara yang tepat.

pengertian konflik

Ilustrasi konflik

Definisi Konflik Menurut Tokoh Psikologi Sosial

Sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, konflik merupakan percekcokan, perselisihan, atau pertentangan. Sementara dalam sudut pandang psikologi sosial, Dedreu menjelaskan konflik sebagai proses yang terjadi ketika individu atau kelompok merasa tindakan orang lain bertentangan dengan kepentingan mereka sendiri (Baron & Brancombe, 2012). Tokoh psikologi sosial lainnya, Myers (2012) menyatakan konflik terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara tindakan dan tujuan. Baron dan Brancombe (2012) menjelaskan konflik sesungguhnya suatu proses yang berasal dari pengalaman diri sendiri dimana berasal dari rasa ketidakpercayaan yang meningkat, lalu menjadi bentuk amarah, dan berujung pada tindakan untuk merugikan orang lain. Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas dapat disimpulkan definisi konflik adalah proses pertentangan yang terjadi antara individu atau kelompok ketika ada ketidaksesuaian antara tindakan, tujuan, serta kepentingan satu sama lain.

Konflik Sosial di Indonesia

Dalam kehidupan sehari-hari, selalu ada akar (pivotal) yang berpotensi menjadi konflik. Akan tetapi, setiap akar yang ada tidak akan berubah menjadi konflik jika tidak ada pemicu (trigger) yang kuat. Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa yang ada menjadi lahan beresiko konflik yang cukup besar dan menjadi sorotan media seperti “Konflik antar Etnis Pribumi dan Etnis Tionghoa”, “Konflik Agama di Ambon”, dan “Tragedi Sampit”.

Jika dilihat dari contoh-contoh konflik sosial di Indonesia tersebut, terdapat gambaran bahwa adanya dua kelompok berbeda yang terlibat dalam konflik. Hal ini dijelaskan lebih lanjut dalam psikologi sosial tentang kategori sosial. Baron dan Byrne (2004) menjelaskan kategorisasi sosial sebagai kecenderungan membagi dunia sosial ke dalam dua kategori yang berbedai, yaitu in-group dan out-group. Pada in-group individu akan menganggap dirinya sebagai bagian dari “kita”. Sementara pada out-group individu akan menganggap kelompok selain kelompok dimana individu menganggap dirinya sebagai anggota yang terkait, sebagai kelompok luar. Kategori akan in-group dan out-group ini menyebabkan sering terjadinya kesalahan atribusi utama, dimana individu cenderung memberi atribusi yang lebih baik dan cenderung memberikan sanjungan kepada anggota kelompoknya sendiri daripada anggota kelompok lain.

Hal-hal seperti yang sudah dijelaskan dapat menjadi salah satu penjelasan atas konflik sosial di Indonesia. Contoh sederhana adalah pada kelompok pendukung sepak bola Indonesia. Individu secara langsung ataupun tidak langsung akan mengkategorisasikan dirinya sebagai bagian dari salah satu kelompok pendukung, seperti pendukung Persib, Persija, Arema, PSS Sleman, dan lain-lain. Ketika seorang individu sudah mengidentifikasikan dirinya sebagai anggota suatu kelompok, seperti pendukung sepak bola, maka ia akan selalu menganggap baik atas hal-hal yang berkaitan dengan kelompoknya (in-group) dan bersikap antipati terhadap anggota di luar kelompoknya (out-group). Oleh karena itu, ketika ada hal yang bertentangan antara satu sama lain, pemicu konflik yang ditimbulkan pun akan semakin besar. Mengganggap bahwa out-group lah yang salah dan in-group yang selalu benar.

Begitu juga dengan antar suku yang ada di Indonesia. Secara alamiah, individu telah mengkategorisasikan dirinya berdasarkan suku bangsa yang dimiliki. Kemudian akan ada yang merasa mayoritas dan minoritas. Masing-masing dari kelompok ini pun akan berjuang untuk memperoleh identitas sosial yang lebih baik serta memperoleh fasilitas-fasilitas yang mendukung dalam kehidupannya. Ketika pemicu permasalahan antar suku ini muncul, sebagai contoh adalah diskriminasi, maka resiko terjadinya konflik pun tidak bisa dihindari. Hal ini dapat dilihat ketika terjadi diskriminasi terhadap kaum etnis Tionghoa oleh kaum etnis pribumi.

Referensi :

  • Baron, R.A., & Brancombe, N.R. (2013). Social Psychology 13th Ed. United States of America: Pearson Education
  • Baron, R.A., & Byrne, D. (2004). Psikologi Sosial Jilid 1 Edisi Kesepuluh. Jakarta: Erlangga.
  • Myers, D.G. (2012). Psikologi Sosial Edisi 10 Buku 2. Jakarta: Salemba

Reply