Gangguan Stres Pasca-Trauma

Posttraumatic Stress Disorder / PTSD Adalah Traumatis?

Post-traumatic stress disorder atau PTSD adalah salah satu bentuk gangguan kesehatan mental, sesuai buku panduan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5) yang dikeluarkan oleh The American Psychological Association (APA).

Sebenarnya gangguan pascatrauma / PTSD ini telah diakui sebagai penyakit mental sejak tahun 1980. Pada mulanya banyak kontroversi ketika PTSD dimasukkan ke dalam buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Third Edition (DSM-III), namun setelah itu dokter dan peneliti bahwa PTSD adalah penyakit mental.

Seseorang yang memiliki PTSD biasanya mengalami trauma psikologis dalam bentuk kilas balik kejadian dimasa lalu. Bentuk lain dari trauma tersebut bisa berupa kenangan, mimpi burung dan pikiran yang menakutkan terutama ketika mereka menghadapi kejadian atau mengingat benda yang membangunkan memori di masa lampau.

Apa itu PTSD?

PTSD atau posttraumatic stress disorder adalah penyakit yang terjadi setelah seseorang mengalami trauma yang terdapat ancaman / kerusakan fisik. Secara garis besar gangguan stres pascatrauma merupakan gangguan kesehatan mental yang berkaitan dengan kecemasan atau anxiety disorder.

Menurut DSM-5, seseorang dinyatakan mengalami gangguan stres pascatrauma jika memenuhi 8 kriteria sebagai berikut:

Kriteria pertama, meliputi:

  • mengalami peristiwa traumatis secara langsung,
  • menyaksikan secara langsung kejadian traumatis yang terjadi pada orang lain,
  • mengetahui jika kejadian traumatis tersebut dialami oleh anggota keluarga atau teman dekat,
  • mengalami paparan berulang pada kejadian traumatis, namun bukan melalui paparan media seperti televisi.

Kriteria kedua, biasanya berupa kejadian seperti mengalami kejadian itu lagi ketika memiliki:

  • pikiran atau persepsi,
  • gambar,
  • mimpi,
  • ilusi atau halusinasi,
  • episode flashback disosiatif.

Kriteria ketiga, berupa diagnosis yang melibatkan respon menghindari rangsangan yang mengingatkan seseorang akan peristiwa traumatis, contohnya:

  • menghindari pikiran, perasaan, atau percakapan yang terkait dengan kejadian traumatis,
  • menghindari orang, tempat, atau kegiatan yang dapat memicu ingatan mengenai kejadian traumatis.

Kriteria keempat, biasanya berupa pikiran negatif yang persisten, dimana sebagian besar terkait dengan peristiwa traumatis, contohnya:

  • tidak ingat aspek penting dalam kejadian traumatis,
  • memiliki keyakinan negatif mengenai diri sendiri, orang lain dan dunia,
  • kognisi yang terus-menerus dan terdistorsi tentang sebab atau akibat dari kejadian tersebut,
  • malas melakukan aktivitas
  • merasa terisolasi / terpisah dari orang lain

Kriteria kelima, diagnosis PTSD yang melibatkan peningkatan reaksi, seperti:

  • mudah marah,
  • perilaku sembrono dan cenderung merusak diri sendiri,
  • memberikan respon berlebihan jika terkejut,
  • mengalami masalah konsentrasi,
  • mengalami gangguan tidur.

Tiga kriteria diagnosis PTSD yang tersisa adalah:

  • mengalami gangguan tersebut lebih dari 1 bulan,
  • gangguan tersebut menyebabkan gangguan fungsi klinis yang signifikan,
  • gangguan ini tidak disebabkan oleh efek fisiologis suatu zat atau gangguan medis lainnya.
PTSD adalah gangguan pascatrauma

Penyebab PTSD

Gangguan PTSD banyak ditemui diantara para tentara dan orang yang berada di garis depan dalam peperangan. Dalam perkembangannya sekarang, PTSD bisa menyerang siapa saja bahkan anak-anak dapat mengembangkan PTSD setelah mengalami peristiwa traumatis.

Penyebab PTSD adalah peristiwa traumatis yang membuat orang akan mengalami kesedihan ketika mengingat peristiwa tersebut atau memegang benda yang bisa mengingatkan seseorang pada peristiwa tertentu.

Hal lain yang dapat menjadi penyebab PTSD adalah kematian anggota keluarga atau teman dekat yang tidak terduga. Kejadian lain seperti ancaman kematian, bahaya serius yang membuat cedera diri sendiri atau orang yang dicintai juga dapat menyebabkan PTSD. Berikut ini beberapa penyebab lain yang dapat menyebabkan trauma:

  • Serangan kekerasan, seperti pemerkosaan
  • Api
  • Pelecehan fisik atau seksual
  • Tindak kekerasan (seperti penembakan di sekolah atau lingkungan)
  • Bencana alam
  • Kecelakaan mobil
  • Pertempuran militer (kadang disebut “shock shell”)
  • Menyaksikan orang lain melalui peristiwa traumatis
  • Didiagnosis menderita penyakit yang mengancam nyawa

Dalam beberapa kasus, PTSD dapat terjadi setelah terulangnya kejadian tertentu. Memiliki perasaan bersalah karena selamat dari kejadian dimana teman atau anggota keluarga meninggal juga dapat berkontribusi sebagai penyebab PTSD.

Siapa yang Berisiko Mengalami PTSD?

Tidak semua orang yang mengalami peristiwa traumatis akan mengembangkan gangguan stres pascatrauma atau PTSD. Resiko kemungkinan memiliki PTSD dan seberapa parah PTSD tersebut bisa bervariasi tergantung pada faktor-faktor tertentu, seperti:

  • kepribadian,
  • riwayat masalah kesehatan mental,
  • dukungan sosial,
  • sejarah keluarga,
  • pengalaman masa kecil,
  • tingkat stres,
  • sifat peristiwa traumatis.

Menurut sebuah studi yang dilansir dari kidshealth.org, diketahui bahwa orang dengan PTSD sering memiliki tingkat atipikal hormon kunci yang terlibat dalam respons stres.

Sebagai contoh, penelitian telah menunjukkan bahwa mereka yang mengalami PTSD memiliki kadar kortisol lebih rendah dari normal. Selain itu kadar epinefrin dan norepinephrine yang lebih tinggi dibandingkan orang normal. Kesemuanya tersebut berperan besar dalam reaksi “fight-or-flight” tubuh terhadap tekanan mendadak.

Ciri-Ciri dan Gejala PTSD

Orang dengan PTSD biasanya memiliki gejala stres dengan rasa kecemasan dan depresi yang cukup tinggi. Pengelompokan gejala PTSD adalah sebagai berikut:

Gagasan atau ingatan mengganggu pada suatu kejadian

  • Ingatan yang tidak diinginkan pada kejadian tertentu terus terulang kembali
  • Mengacaukan mimpi atau mimpi buruk
  • Berakting atau merasa seakan peristiwa itu terjadi lagi (kilas balik)
  • Sakit hati dan takut saat diingatkan pada kejadian tertentu
  • Merasa gelisah, kaget, atau gugup saat sesuatu memicu kenangan akan kejadian tertentu
  • Anak-anak dapat menghidupkan kembali apa yang terjadi dalam permainan atau gambar mereka

Menghindari mengingat kejadian tertentu

  • Menghindari untuk memikirkan atau membicarakan masalah trauma di masa lalu
  • Menghindari kegiatan, tempat, atau orang yang menjadi pengingat pada kejadian tertentu
  • Ketidakmampuan mengingat bagian penting dari apa yang terjadi

Berpikir negatif sejak kejadian itu terjadi

  • Kekhawatiran bahwa dunia menjadi tidak aman
  • Menyalahkan diri sendiri untuk kejadian traumatis
  • Kurang tertarik untuk berpartisipasi dalam kegiatan rutin
  • Perasaan terus-menerus marah, malu, takut atau bersalah atas apa yang terjadi
  • Merasa terpisah atau terasing dari orang
  • Tidak mampu memiliki emosi positif (kebahagiaan, kepuasan, perasaan mencintai)

Perasaan cemas atau reaksi fisik yang terus-menerus

  • Merasa rewel, kesal, atau marah
  • Masalah memperhatikan atau memfokuskan
  • Selalu waspada terhadap bahaya atau tanda peringatan
  • Mudah kaget

Gejala PTSD biasanya berkembang dalam bulan pertama setelah trauma, tapi mungkin tidak muncul sampai berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun telah berlalu. Pada akhirnya gejal tersebut akan berlanjut hingga bertahuntahun setelah mengalami trauma.

PTSD bisa mereda, namun bisa kembali muncul di kemudian hari jika ada sesuatu yang memicu seseorang menginat kenangan yang membuat trauma. Penyakit PTSD juga bisa datang sebagai respon jangka pendek yang tiba-tiba (acute stress disorder) ke suatu peristiwa dan bisa berlangsung beberapa hari atau sampai satu bulan.

Kebanyakan orang dengan PTSD tidak mencari bantuan tim kesehatan mental profesional karena menurut mereka, rasa takut yang mereka alami bisa dimaklumi setelah mengalami peristiwa traumatis.

Sebagian lainnya tidak mencari bantuan profesional karena tidak mengetahui kaitan antara gejala dan trauma yang mereka alami. Oleh karena itu peran dari anggota keluarga, teman, guru, dokter ataupun konselor sangat berarti dalam mengenali gejala PTSD.

Mengobati PTSD

Seseorang dengan PTSD bisa pulih dari peristiwa traumatis setelah menjalani masa penyesuaian, namun ada juga yang tetap mengalaminya hingga lebih dari sebulan. Jika hal itu yang terjadi, segeralah meminta bantuan tim ahli kesehatan mental.

1. Terapi PTSD

Terapi menjadi salah satu solusi untuk mengatasi gejala dan pikiran negatif yang menimbulkan PTSD. Seorang terapis biasanya akan membantu keluarga pasien dalam merancang metode terapi penyesuaian diri agar dapat kembali ke kehidupan yang normal. Dua terapi yang biasanya diberikan untuk PTSD adalah:

  • Terapi perilaku kognitif / Cognitive behavioral therapy (CBT)
  • Desensitisasi dan pemrosesan ulang mata / Eye movement desensitization and reprocessing (EMDR)

Terapi perilaku kognitif berfokus untuk mengenali pola pemikiran dan kemudian bagaimana mengatasi pola yang salah. Terapi perilaku kognitif ini dirancang untuk dapat mengubah pemikiran negatif menjadi pemikiran yang positif.

Terapi EMDR merupakan teknik yang menggabungkan paparan dan pendekatan terapi lainnya dengan serangkaian gerakan mata terbimbing. Terapi EMDR dirancang untuk merangsang mekanisme pemrosesan informasi otak dalam upaya memproses kembali ingatan traumatis sehingga dapat diintegrasikan ke dalam jiwa tanpa kecemasan yang terkait.

Teknik terapi lain yang digunakan untuk mengobati PTSD adalah:

  • Terapi keluarga
  • Mainkan terapi
  • Terapi seni
  • Latihan relaksasi
  • Grup Dukungan PTSD
  • Terapi bicara individu – khususnya bagi mereka yang trauma akibat pelecehan atau mengalami trauma masa kecil
  • Manajemen kecemasan

2. Obat PTSD

Obat-obatan dapat juga digunakan untuk mengobati gangguan stres pascatrauma. Obat-obatan ini mungkin akan mendukung terapi PTSD yang dijalani. Sekali lagi selalu konsultasikan pada dokter untuk penggunaan obat-obatan! Contoh obat PTSD adalah sebagai berikut:

  • Antidepresan – beberapa jenis antidepresan diresepkan untuk PTSD. Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) adalah tipe obat utama. SSRI diketahui dapat mengurangi gejala yang terkait isyarat trauma. Selain itu, sertraline (Zoloft) dan paroxetine (Paxil) adalah obat antidepresan PTSD yang disetujui oleh FDA (Food and Drug Administration).
  • Benzodiazepin, merupakan obat penenang yang diresepkan untuk mengontrol gejala kecemasan jangka pendek. Jenis obat ini juga dapat membantu seseorang yang mengalami iritabilitas dan gangguan tidur.
  • Beta-Blocker, adalah jenis obat yang membantu seseorang yang mengalami hyperarousal / kondisi selalu terjaga dan waspada seperti saat mengalami trauma.