Posttraumatic Stress Disorder/PTSD Adalah Trauma Psikologis?

Post-traumatic stress disorder atau PTSD adalah masalah kesehatan mental yang dipengaruhi oleh beberapa hal termasuk kekerasan, cedera dan bahaya. Seseorang yang menjadi korban atau terancam pada suatu kondisi tertentu dapat mengembangkan masalah ini. PTSD biasanya terjadi beberapa minggu setelah kejadian traumatis terjadi, atau bahkan hingga bertahun-tahun lamanya.

Seseorang yang memiliki PTSD biasanya mengalami trauma psikologis dalam bentuk kilas balik kejadian dimasa lalu. Bentuk lain dari trauma tersebut bisa berupa kenangan, mimpi burung dan pikiran yang menakutkan terutama ketika mereka menghadapi kejadian atau mengingat benda yang membangunkan memori di masa lampau.

Psikolog atau konselor lainnya dapat membantu orang-orang dengan PTSD untuk menangani pikiran dan perasaan buruk yang menyakitkan agar bisa kembali ke kehidupan normal.

Penyebab PTSD

Gangguan PTSD banyak ditemui diantara para tentara dan orang yang berada di garis depan dalam peperangan. Dalam perkembangannya sekarang, PTSD bisa menyerang siapa saja bahkan anak-anak dapat mengembangkan PTSD setelah mengalami peristiwa traumatis.

Penyebab PTSD adalah peristiwa traumatis yang membuat orang akan mengalami kesedihan ketika mengingat peristiwa tersebut atau memegang benda yang bisa mengingatkan seseorang pada peristiwa tertentu. Hal lain yang dapat menjadi penyebab PTSD adalah kematian anggota keluarga atau teman dekat yang tidak terduga. Kejadian lain seperti ancaman kematian, bahaya serius yang membuat cedera diri sendiri atau orang yang dicintai juga dapat menyebabkan PTSD. Berikut ini beberapa penyebab lain yang dapat menyebabkan trauma:

  • Serangan kekerasan, seperti pemerkosaan
  • Api
  • Pelecehan fisik atau seksual
  • Tindak kekerasan (seperti penembakan di sekolah atau lingkungan)
  • Bencana alam
  • Kecelakaan mobil
  • Pertempuran militer (kadang disebut “shock shell”)
  • Menyaksikan orang lain melalui peristiwa traumatis
  • Didiagnosis menderita penyakit yang mengancam nyawa

Dalam beberapa kasus, PTSD dapat terjadi setelah terulangnya kejadian tertentu. Memiliki perasaan bersalah karena selamat dari kejadian dimana teman atau anggota keluarga meninggal juga dapat berkontribusi sebagai penyebab PTSD.

Siapa yang Berisiko Mengalami PTSD?

Tidak semua orang yang mengalami peristiwa traumatis akan mengembangkan gangguan PTSD. Resiko kemungkinan memiliki PTSD dan seberapa parah PTSD tersebut bisa bervariasi tergantung pada faktor-faktor tertentu seperti kepribadian, riwayat masalah kesehatan mental, dukungan sosial, sejarah keluarga, pengalaman masa kecil, tingkat stres, dan sifat peristiwa traumatis.

Menurut sebuah studi yang dilansir dari kidshealth.org,¬†diketahui bahwa orang dengan PTSD sering memiliki tingkat atipikal hormon kunci yang terlibat dalam respons stres. Sebagai contoh, penelitian telah menunjukkan bahwa mereka yang mengalami PTSD memiliki kadar kortisol lebih rendah dari normal. Selain itu kadar epinefrin dan norepinephrine yang lebih tinggi dibandingkan orang normal. Kesemuanya tersebut berperan besar dalam reaksi “fight-or-flight” tubuh terhadap tekanan mendadak.

Ciri-Ciri dan Gejala PTSD

Orang dengan PTSD biasanya memiliki gejala stress dengan rasa kecemasan dan depresi yang cukup tinggi. Pengelompokan gejala PTSD adalah sebagai berikut:

Gagasan atau ingatan mengganggu pada suatu kejadian

  • Ingatan yang tidak diinginkan pada kejadian tertentu terus terulang kembali
  • Mengacaukan mimpi atau mimpi buruk
  • Berakting atau merasa seakan peristiwa itu terjadi lagi (kilas balik)
  • Sakit hati dan takut saat diingatkan pada kejadian tertentu
  • Merasa gelisah, kaget, atau gugup saat sesuatu memicu kenangan akan kejadian tertentu
  • Anak-anak dapat menghidupkan kembali apa yang terjadi dalam permainan atau gambar mereka

Menghindari mengingat kejadian tertentu

  • Menghindari untuk memikirkan atau membicarakan masalah trauma di masa lalu
  • Menghindari kegiatan, tempat, atau orang yang menjadi pengingat pada kejadian tertentu
  • Ketidakmampuan mengingat bagian penting dari apa yang terjadi

Berpikir negatif sejak kejadian itu terjadi

  • Kekhawatiran bahwa dunia menjadi tidak aman
  • Menyalahkan diri sendiri untuk kejadian traumatis
  • Kurang tertarik untuk berpartisipasi dalam kegiatan rutin
  • Perasaan terus-menerus marah, malu, takut atau bersalah atas apa yang terjadi
  • Merasa terpisah atau terasing dari orang
  • Tidak mampu memiliki emosi positif (kebahagiaan, kepuasan, perasaan mencintai)

Perasaan cemas atau reaksi fisik yang terus-menerus

  • Merasa rewel, kesal, atau marah
  • Masalah memperhatikan atau memfokuskan
  • Selalu waspada terhadap bahaya atau tanda peringatan
  • Mudah kaget

Gejala PTSD biasanya berkembang dalam bulan pertama setelah trauma, tapi mungkin tidak muncul sampai berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun telah berlalu. Pada akhirnya gejal tersebut akan berlanjut hingga bertahuntahun setelah mengalami trauma.

PTSD bisa mereda, namun bisa kembali muncul di kemudian hari jika ada sesuatu yang memicu seseorang menginat kenangan yang membuat trauma. PTSD juga bisa datang sebagai respon jangka pendek yang tiba-tiba (acute stress disorder) ke suatu peristiwa dan bisa berlangsung beberapa hari atau sampai satu bulan.

Kebanyakan orang dengan PTSD tidak mencari bantuan tim kesehatan mental yang professional karena menurut mereka, rasa takut yang mereka alami bisa dimaklumi setelah mengalami peristiwa traumatis. Sebagian lainnya tidak mencari bantuan professional karena tidak mengetahui kaitan antara gejla dan trauma yang mereka alami. Oleh karena itu peran dari anggota keluarga, teman, guru, dokter ataupun konselor sangat berarti dalam mengenali gejala PTSD.

Mengobati PTSD

Seseorang dengan PTSD bisa pulih dari peristiwa traumatis setelah menjalani masa penyesuaian, namun ada juga yang tetap mengalaminya hingga lebih dari sebulan. Jika hal itu yang terjadi, segeralah meminta bantuan tim ahli kesehatan mental. Adapun tim kesehatan mental yang bisa membantu menangani PTSD adalah:

  • Psikolog
  • Psikiater
  • Pekerja sosial berlisensi berlisensi
  • Konselor profesional berlisensi
  • Tim penanganan trauma berlisensi

Terapi menjadi salah satu solusi untuk mengatasi gejala dan pikiran negatif yang menimbulkan PTSD. Seorang terapis biasanya akan membantu keluarga pasien dalam merancang metode terapi penyesuaian diri agar dapat kembali ke kehidupan yang normal. Terapi perilaku kognitif sangat efektif dalam menangani orang dengan penyakit PTSD. Terapi perilaku kognitif ini dirancang untuk dapat mengubah pemikiran negatif menjadi pemikiran yang positif.

Pada beberapa kasus penyakit PTSD, obat-obatan bisa digunakan untuk mengobati gejala depresi dan kecemasan serius yang mengembangkan PTSD. Pengobatan biasanya hanya direkomendasikan sampai seorang pasien merasa lebih baik, selanjutnya baru melalui terapi agar bisa kembali menjalani hidup normal. Terapi kelompok PTSD adalah cara yang lebih efektif dibandingkan dengan terapi individu.