Self-Esteem Adalah Harga Diri Kita, Bukankah Begitu?

Kata lain dari self-esteem adalah harga diri. Konsep harga diri dalam psikologi merupakan konsep yang luas cakupannya. Harga diri merupakan bagian dari konsep diri, yang diyakini sebagai hasil interaksi sosial antar individu. Kali ini halopsikolog ingin membahas tuntas masalah ini karena berkaitan dengan banyaknya orang yang belum bisa memaknai harga diri.

Harga diri adalah sesuatu perasaan, opini dan pemikiran yang memandang diri dari sudut pandang diri sendiri. Harga diri mungkin tidak bersifat tetap karena sering berubah tergantung pada cara kita berpikir pada waktu itu. Seiring berjalannya waktu, kebiasaan berpikir negatif tentang diri kita sendiri akan dapat menurunkan harga diri. Oleh karena itu penting sekali untuk memahami diri sendiri, mengenal kelebihan dan kekurangan yang kita miliki.

Definisi Self-Esteem Menurut Para Ahli

Self-esteem merupakan bagian dari ilmu psikologi yang dipelajari untuk mengetahui bagaimana konsep diri itu sebenarnya. Para ahli memberikan penjelasan mengenai apa itu self esteem dan faktor apa saja yang mempengaruhinya. Beberapa pendapat menurut para ahli mengenai definisi self-esteem adalah sebagai berikut:

Self-esteem menurut Copersmith

Coopersmith (1967) menyatakan bahwa harga diri merupakan bentuk evaluasi diri seseorang terhadap dirinya sendiri, serta mempertahankan anggapan atau penilaian diri sendiri. Harga diri dapat diekspresikan melalui sikap penerimaan ataupun menolak hasil evaluasi yang dilakukan.

Objek evaluasi atau penilaian terhadap diri sendiri biasanya terkait dengan kompetensi atau potensi yang dimiliki individu, keberhasilan atau kegagalan yang pernah dilakukan individu. Selain itu juga, objek evaluasi seorang individu adalah apakah dirinya dapat diterima oleh lingkungan dan menerima diri sendiri apa adanya.

Self-esteem menurut Owens

Owens (1994) mendefinisikan harga diri berdasarkan pernyataan dari Rosenberg (1965), self-esteem adalah harga diri yang memiliki dua komponen pada penilaian objek (self) yaitu komponen positif dan/atau komponen negatif. Komponen positif disebut dengan self-worth (diri yang berharga) yang berkaitan dengan tingkatan seseorang mempercayai dirinya bahwa dia mampu.

Selain itu, self-worth juga merupakan tingkat penilaian bahwa diri individu tersebut memiliki moral yang berharga atau kebaikan. Komponen negatif disebut dengan self-deprication berupa kritik terhadap diri (self). Hal ini sering terjadi ketika individu meremehkan perasaan, kemampuan, potensi, serta kebaikan yang ada pada diri individu tersebut.

Self-esteem menurut Tafarodi dan Swann

Tafarodi dan Swann (1995) menjelaskan bahwa harga diri dipengaruhi oleh lingkungan sosial individu, tempat dimana individu tinggal dan berinteraksi dengan orang lain. Seperti Owens (1994), Tafarodi dan Swann (1995) juga membedakan harga diri menjadi dua komponen, yaitu self-liking dan self-competence.

Self-liking merupakan penilaian afektif terhadap diri sendiri, apakah dirinya diterima atau ditolak, disetujui atau dicela oleh nilai sosial yang terlah terinternalisasi dalam diri individu. Self-competence merupakan penilaian bahwa diri mampu, memiliki potensi, efektif dan dapat dikontrol serta diandalkan. Self-competence merupakan hasil dari keberhasilan memanipulasi lingkungan fisik ataupun sosial yang berhubungan dengan realisasi dan pencapaian tujuan.

Self-esteem menurut Baron, Branscombe dan Byrne

Menurut Baron, Branscombe dan Byrne (2008), self-esteem adalah tingkat penerimaan diri secara positif ataupun negatif terhadap semua sikap diri. Harga diri menurut Baron, Branscombe dan Byrne (2008) sangat responsif terhadap peristiwa yang dialami individu dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ketika seorang individu mampu mecapai tujuan yang diingikan makan harga diri akan meningkat, namun apabila mengalami kegagalan maka harga dirinya akan turun.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Self-Esteem

Tinggi atau rendahnya self-esteem atau harga diri terbentuk karena adanya interaksi antara individu dengan lingkungan sosial, sehingga perkembangan harga diri akan dipengaruhi oleh barbagai faktor. Beberapa faktor yang mempengaruhi self-esteem adalah sebagai berikut:

Usia

Penelitian yang dilakukan oleh Robins, Trzesnieski, Gosling dan Potter (2002) menunjukan bahwa usia anak-anak (9-12 tahun) memiliki tingkat harga diri yang tertinggi daripada usia lainya; kemudian mengalami penurunan tanjam dari masa anak-anak ke masa remaja (13-17 tahun) dan penurunan berlanjut pada usia mahasiswa (18-22 tahun); kemudian mengalami peningkatan pada masa paska mahasiswa (23-29 tahun) sampai usia 30-40 tahun. Peningkatan berlanjut sampai usia 40-50 tahun, Akhirnya harga diri mengalami penurunan mencolok dari usia 60-80 tahun. Perubahan self-esteem yang terjadi dikarenakan pada setiap jenjang usia memiliki tugas yang berbeda-beda sehingga akan mempengaruhi tingkat harga diri individu.

Gender

Robins, Trzesniewski, Gosling dan Potter (2002) menunjukan bahwa ada perbedaan tingkat harga diri, laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Perbedaan tingkat harga diri antara laki-laki dan perempuan baru terjadi ketika masa remaja dan terus berlanjut hingga usia lanjut.

Menurut Baron, Branscombe dan Byrne (2008) serta Zukerman, Li dan Hall (2016) terjadinya perbedaan tingkat self-esteem adalah dikarenakan perempuan menduduki status yang lebih rendah dan sering kali menjadi target prasangka, posisi struktur sosial yang memberikan dampak negatif pada harga diri perempuan

Pola Pengasuhan Orangtua

Penelitian Loeb, Horst dan Horton (1980) menunjukan bahwa cara mengasuh orangtua dengan menggunakan perilaku memerintah secara umum berhubungan dengan rendahnya harga diri pada anak. Penelitian lain dari kepengasuhan Martinez, Gracia dan Yubero (2007) menyatakan bahwa gaya pengasuhan menggunakan kekerasan dan perilaku menghukum (Bush, Peterson, Cobas, & Supple ,2002) yang dilakukan orangtua tidak dapat mengingkatkan harga diri anak. Harga diri lebih berkembang dengan baik di lingkungan keluarga yang menekankan pemberian saran dan bantuan serta pilihan yang memungkinkan pada anak (Loeb, Horst & Horton, 1980).

Important: Sering kita tidak menyadari bahwa kita kerap kali berpikir negatif terhadap diri kita sendiri. Begitu menyadari hal itu, barulah kita mencari cara untuk mengubah cara berpikir. Tidak mudah memang untuk mengubah cara berpikir tersebut, namun kesadaran yang walaupun terlambat akan membuat diri kita merasa tenang dan tidak selalu menyalahkan diri sendiri. Self-esteem adalah harga diri kita sendiri, jadi cobalah untuk memaknainya! Semoga artikel yang halopsikolog publikasikan hari ini bermanfaat bagi kita semua.

 

Referensi:
Coopersmith. 1967. The Antecedent of Self-Esteem. San Fransisco: W.H Freeman and Company.

Owens, Timothy, J. 1994. Two dimensions of self-esteem: Reciprocal effects of positive self-worth and self-deprecation on adolescent problems. American Sociological Review, 59(3) 391-407.

Tafarodi, R.W., & Swann, W.B. (1995). Self-liking and self-competence as dimensions of global self-esteem: Initial validation of a measure. Journal of Personality Assessment, 65(2), 322-342.

Baron, R.A., Branscombe, N.R., & Byrne, D. 2008. Social Psychology Twelfth Edition. USA: Pearson

Robins, R.W., Trzesniewski, K.H., Gosling, S.D., & Potter, J. (2002). Global self-esteem across the life span. Psychology and Aging, 17(3) 423-434.

Zuckerman, Miron., Li, Chen., & Hall, Judith, A. (2016). When men and women differ in self-esteem and when they don’t: A meta-analysis. Journal of Research in Personality, 64, 34-51.

Loeb, Roger, C., Horst, Leslie., & Horton, Patricia, J. (1980). Family interaction patterns associated with self-esteem in preadolescent girls and boys. Merrill-Palmer Quarterly of Behavior and Development, 26(3), 205-217.

Martinez, Isabel., Gracia, J.F., & Yubero, Santiago. 2007. Parenting style and adolescents’ self-esteem in Brazil. Psychological Reports, 100 731-745.

Bush, K.R., Peterson, G.W., Cobas, J.A., & Supple, A.J. 2002. Adolescents’ perceptions of parental behaviors as predictors of adolescent self-esteem in Mainland China. Sociological Inquiry, 72(4), 503-26.