Skizofrenia

Skizofrenia adalah Penyakit Negatif? Bukan! Menurut DSM-5

Skizofrenia adalah salah satu gangguan mental yang dipelajari dalam psikologi. Secara harfiah skizofrenia berarti pemisahan pikiran, diperoleh dari kata bahasa Yunani yaitu Scizos (pecah-belah) dan Phren (jiwa). Sayangnya sebenarnya pengertian secara harfiah tersebut memberi kesan bahwa skizofrenia adalah kepribadian ganda, padahal itu sama sekali tidak benar. Penyakit skizofrenia berbeda dengan kepribadian ganda.

Kata skizofrenia diciptakan oleh seorang psikiater Swiss yang bernama Eugen Bleuler. Namun itu bukanlah saat dimana skizofrenia ditemukan. Pada saat itu maksudnya lebih ke arah dementia praecox, yang merupakan deskripsi medis pertama dari apa yang kita tahu pada skizofrenia modern.

Dementia praecox, ditemukan dan dijelaskan sekitar tahun 1891 oleh Arnold Pick. Penemuan tersebut sering dikaitkan dengan penemuan psikiater Jerman yang bernama Emil Kraepelin. Kraepelin adalah orang yang membagi dementia praecox menjadi subtipe hebefrenik, katatonik dan paranoid, yang mana sangat mirip dengan jenis skizofrenia modern saat ini.

Apa itu Skizofrenia?

Penyakit skizofrenia adalah gangguan mental yang banyak diketahui banyak orang, bahkan tim medis profesional, namun tidak semuanya mengerti mengenai gangguan mental ini. Skizofrenia memang masalah kompleks, cara terbaik untuk memahami arti skizofrenia adalah dengan cara memecahnya dan memeriksa bagian-bagian detailnya.

Melalui pengamatan dan penelitian, psikiater, ahli saraf dan profesional medis yang berspesialisasi dalam otak menyimpulkan bahwa skizofrenia adalah:

  • penyakit otak,
  • penyakit medis,
  • penyakit mental, gangguan psikotik.

Skizofrenia adalah gangguan mental serius (serious mental illness / SMI) yang mengacaukan persepsi, pikiran, perasaan, proses kognitif, dan perilaku. Terkadang beberapa profesional lebih suka menggunakan istilah SMI daripada skizofrenia.

Istilah gangguan mental serius dianggap oleh beberapa profesional sebagai istilah yang lebih jelas dan logis dibandingkan skizofrenia. Hal itu karena:

  • skizofrenia sendiri sebenarnya adalah sekelompok gejala dan diagnostik daripada satu penyakit,
  • penyakit ini unik untuk setiap individu,
  • istilah gangguan mental serius tidak memiliki konotasi negatif seperti halnya skizofrenia.

The American Psychological Association (APA) menjelaskan skizofrenia dalam publikasi Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5) .

penyakit skizofrenia adalah gangguan mental kronis

Penyakit Skizofrenia dalam DSM-5

DSM-5 berupaya mengubah stigma bahwa skizofrenia adalah penyakit yang kejam dan dengan jelas menyatakan bahwa kebanyakan orang dengan skizofrenia tidak agresif dan lebih sering menjadi korban kekerasan.

Arti skizofrenia dalam DSM-5 tidak begitu banyak mendefinisikan gangguan dalam istilah singkat seperti halnya menggambarkan diagnostiknya. Karena kerumitannya, tidak ada definisi skizofrenia yang singkat, padat dan jelas.

Skizofrenia adalah penyakit rumit pada otak yang sangat individual, artinya tiap individu akan mengalami hal secara unik. Penyakit Skizofrenia yang dijelaskan dalam DSM-5 adalah gangguan yang memiliki beberapa sifat berikut:

  • memiliki gejala positif seperti halisinasi dan delusi,
  • memiliki gejala negatif seperti berkurangnya ekspresi,
  • memiliki gejala kognitif seperti berkurangnya kemampuan menghadapi masalah dan penalaran,
  • memiliki perilaku yang tidak teratur / katatonik,
  • berbicara ngelantur,
  • disfungsional pada area kehidupan yang penting,
  • memiliki masalah neurologis yang mempengaruhi keterampilan gerak / motorik, integrasi sensorik,
  • bergumam dengan keras di depan umum,
  • melakukan hal yang tidak masuk akal.

DSM-5 menetapkan bahwa gejala skizofrenia setidaknya terjadi minimal enam bulan dan terjadi dalam kelompok yang tidak termasuk dalam gangguan lain atau penggunaan obat tertentu. Maksudnya jika seseorang hanya mengalami halusinasi saja tanpa gejala lain maka itu bukan penyakit skizofrenia.

Jenis Skizofrenia

Sebelum 2013, skizofrenia diklasifikasikan dan didiagnosis sebagai salah satu dari lima jenis skizofrenia (temuat dalam DSM-IV-TR), yaitu:

  • skizofrenia paranoid,
  • skizofrenia hebrefenik / tidak terorganisasi,
  • skizofrenia katatonik,
  • skizofrenia residual,
  • skizofrenia tidak tergolong.

Apabila seseorang memenuhi kriteria skizofrenia, maka dia akan didiagnosis lebih lanjut dengan jenis skizofrenia tertentu. Misalnya seseorang didiagnosis skizofrenia, tipe paranoid.

Ketika The American Psychiatric Association mengeluarkan panduan DSM-5, lima jenis skizofrenia tersebut dihilangkan dan tidak lagi digunakan sebagai bagian dari diagnosis skizofrenia.

Penyakit skizofrenia bisa membingungkan, bahkan bagi para profesional, dan gagasan mendiagnosis pasien menggunakan jenis tertentu membuat kebingungan semakin parah. Pasien bisa memiliki gejala yang sesuai dengan lebih dari satu jenis skizofrenia. Itulah mengapa dalam DSM-5 hanya ada satu gangguan skizofrenia dan 5 jenis spesifik yang pada awalnya dikenalkan dalam DSM-IV-TR dihilangkan.

Meskipun begitu mengetahui jenis skizofrenia pada DSM-IV-TR dapat membantu seseorang memahami ciri dan karakteristik skizofrenia. Dengan mengetahui kelima jenis tersebut bisa membantu seseorang memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Karakteristik dan Ciri-Ciri Skizofrenia

Apabila seseorang didiagnosis mengalami gangguan skizofrenia, maka ia akan menunjukkan sifat-sifat berikut (catatan: karakteristik dapat berubah seiring waktu) :

1. Paranoid

  • Halusinasi, terutama mendengar suara bisikan
  • Delusi
  • Marah
  • Kegelisahan
  • Acuh tak acuh
  • Perilaku argumentatif
  • Gejala negatif skizofrenia biasanya tidak muncul
  • Secara keseluruhan, penampilan pasien tidak seperti mengalami skizofrenia

2. Hebrefenik / tidak terorganisasi

  • Berbicara tidak teratur sehingga sulit dipahami
  • Berperilaku aneh dan tidak teratur
  • Bermasalah pada tes psikologi dan kognitif
  • Berpakaian tidak sesuai dengan kondisi cuaca
  • Berantakan dan acak-acakan
  • Halusinasi dan delusi minimal; ketika keduanya terjadi maka tidak terstruktur dan tidak terorganisir dibandingkan pada karakteristik paranoid

3. Katatonik

  • Mengabaikan kehadiran orang lain
  • Memiliki gerakan yang lambat
  • Menahan diri untuk berbicara
  • Meniru secara tidak sengaja pembicaraan orang lain (echolalia)
  • Hiperaktid dan melakukan gerakan tanpa tujuan (echopraxia)

4. Residual

  • Mengalami gejala negatif
  • Tidak ada pengalaman halusinasi atau delusi saat ini (tetapi mengalaminya di masa lalu)

5. Tidak Tergolong

  • Orang tersebut memenuhi kriteria mengalami penyakit skizofrenia
  • Tidak menunjukkan sifat karakteristik untuk menjadi paranoid, hebefrenik atau katatonik.

Karakteristik dan ciri-ciri skizofrenia yang dikenalkan sebagai jenis skizofrenia pada DSM-IV-TR dan dihilangkan pada DSM-5 ini membantu para profesional mengenali apa yang dialami pasien. Ingat! jenis mungkin hilang, tetapi karakteristik dan ciri masih ada dalam skizofrenia. Adanya karakteristik tersebut dapat membantu dalam pembuatan rencana perawatan yang sesuai dengan masing-masing individu.

Gejala Skizofrenia

Skizofrenia adalah gangguan mental yang rumit dan serius, tanda dan gejala skizofrenia juga sulit untuk dipahami. Gejala yang dialami oleh pasien mungkin akan beragam dan individual. Namun dari beberapa kasus dapat ditarik beberapa gejala utama skizofrenia, yaitu:

  • halusinasi,
  • delusi
  • disorganisasi, baik ucapan maupun perilaku
  • kurangnya motivasi.

Gejala skizofrenia tersebut tidak muncul begitu saja. Ada beberapa tanda-tanda awal yang menunjukan gejala dan diagnosa bahwa skizofrenia akan datang.

1. Tanda-Tanda Skizofrenia

Penyakit skizofrenia pada awalnya akan didahului oleh fase prodromal skizofrenia. Selama tahap prodromal / tahap awal, akan muncul beberapa yang menganggu kinerja otak pasien. Tanda-tanda tersebut mencakup perubahan perilaku, pemikiran, komunikasi dan emosi. Beberapa tanda prodromal skizofrenia meliputi:

  • malas merawat diri dan kebersiahan,
  • menarik dari keluarga, teman dan beberapa kegiatan sehingga semakin terioslasi,
  • kesulitan berkomunikasi,
  • penurunan kinerja, baik dalam pekerjaan maupun tugas dirumah,
  • daya ingat yang menurun,
  • merasa tidak pantas atau tidak rasional
  • gelisah dan sering curigaan,
  • memiliki gagasan yang aneh,
  • memiliki masalah memisahkan fantasi dari kenyataan,
  • kurangnya ekspresi,
  • emosi yang intens atau tidak ada emosi sama sekali.

Pada tahap awal atau prodromal penyakit skizofrenia, pasein tidak harus mengalami semua tanta-tanda diatas. Namun jika hanya mengalami satu atau dua tanda yang diawali, itu adalah tanda ringan dan belum tentu mengalami skizofrenia.

2. Gejala Skizofrenia Sesuai DSM-5

Menurut SDM-5, seseorang dinyatakan mengalami gangguan mental ini jika mengalami gejala skizofrenia positif dan negatif. Gejala positif adala gejala yang mengubah / menambah pengalaman normal seseorang. Sedangkan gejala negatif adalah gejala yang menghilangkan pengalaman biasa seseorang.

Gejala positif skizofrenia meliputi:

  • halusinasi / distorsi sensorik yang melibatkan kemampuan pengelihatan, pendengaran, perasan, penciuman dan mencicipi hal-hal yang tidak nyata,
  • delusi / penyimpangan pikiran atau kepercayaan pada hal-hal yang tidak nyata,
  • penggunaan bahasa yang tidak terorganisasi, ucapan menjadi kacau dan tidak mudah untuk dipahami. Penggunaan logis yang sembarangan pada kalimat,
  • perilaku yang tidak teratur, seperti berpakaian yang tidak sesuai denga cuaca.

Gejala negatif skizofrenia dapat berupa:

  • ekspresi tanpa emosi,
  • avolition, ketidakmampuan untuk mengikuti perilaku sesuai tujuan orientasi; kurangnya motivasi,
  • alogia, pemikiran dan ucapan yang terbatas.

Selain gejala positif dan negatif, seseorang mungkin mengalami gejala lain yang dulunya dikategorikan sebagai gejala skizofrenia spesifik sesuai diagnostik jenis skizofrenia. Meskipun jenis skizofrenia sudah tidak digunakan lagi namun sifatnya masih ada dan orang yang memiliki skizofrenia mungkin akan mengalami gejala tersebut.

Gejala katatonik, meliputi:

  • gerakan yang lambat
  • kegagalan berbicara / mutisme
  • mengabaikan pembicaraan, seolah-olah orang lain tidak ada disana.

Gejala paranoid, meliputi:

  • curigaan,
  • percaya kalau orang lain sedang mengincarnya,
  • melakukan tindakan protektif.

Gejala hebrefenik, meliputi:

  • kurang fokus,
  • masalah pada pikiran dan ucapan.

Gejala skizofrenia yang ada dalam DSM-5 adalah gambaran umum yang merupakan bagian dari skizofrenia, semua orang mengalaminya dengan cara yang berbeda. Memahami gejala-gejala umum ini akan membantu memahami bagaimana seseorang hidup dengan penyakit skizofrenia.

Penyebab Skizofrenia

Sampai saat ini belum ada yang mengatahui secara pasti penyebab skizofrenia. Skizofrenia jugabukan salah siapa-siapa. Skizofrenia merupakan gangguan kesehatan mental yang komplek, para peneliti berusaha mempelajarinya dan mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor resiko.

Banyak teori yang dikembangkan oleh para peneliti tentang apa yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan ini. Berhubung skizofrenia adalah penyakit otak, maka teori-teorti penyebab yang berhubungan dengan kinerja otak atau faktor luar yang secara langsung berdampak pada otak. Teori tersebut meliputi:

1. Faktor Biologis / Genetik

Penyakit skizofrenia dapat disebabkan oleh faktor biologis ataupun kimia. Seseorang yang memiliki orang tua dengan skizofrenia akan meningkatkan resiko penyakit ini dari 1% menjadi 10%. Seseorang yang memiliki saudara kembar identik dengan gangguan skizofrenua akan meningkatkan resiko sekitar 50% (Selverstein, Spaulding, & menditto, 2006).

2. Neurologis

Neurologis adalah penyebab skizofrenia yang berkaitan dengan sistem saraf dan fungsinya. Ketidakseimbangan neurotransmitter (sinyal) serotonin dan GABA menjadi salah satu penyebabnya.

Dua neurotransmitter yang paling bermasalah dalam penyakit skizofrenia adalah dopamin dan glutamat. Dopamin sangat berkorelasi dengan skizofrenia sehingga penyebab potensial ini disebut sebagai hipotesks dopamin.

3. Kognisi

Kognisi berkaitan dengan bagaimana seseorang memproses input ke otak Kognisi melibatkan pemikiran, memori, penggunaan input kontekstual dan sensorik untuk menafsirkan suatu informasi.

Penyakit skizofrenia melibatkan kesulitan yang signifikan pada proses kognisi dan kontekstual. Untungnya para peneliti telah mengidentifikasi masalah di area otak yang bertanggung jawab untuk kognisi.

4. Lingkungan / Tingkat Stres

Seseorang yang rentan mengalami stres baik karena kondisinya ataupun pengaruh lingkungan dapat menjadi penyebab skizofrenia. Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain:

  • trauma karena pelecehan di masa kecil,
  • sering pindah tempat tinggal yang cukup berbeda budayanya,
  • mengalami stres berat dan kronis.

5. Virus dan imunopatologi

Teori lain yang dapat menjadi penyebab skizofrenia adalah virus dan sistem kekebalan tubuh. Diketahui bahwa ada beberapa virus yang dapat berdampak negatif pada otak dan kesehatan mental, namun para peneliti masih mempelajari hipotesis ini.

Perawatan dan Terapi Skizofrenia

Perawatan skizofrenia biasanya difokuskan untuk mengilangkan gejala yang timbul. Perawatan bisa dilakukan dengan 3 cara yaitu antipsikotik, pengobatan psikososial dan layanan khusus terkoordinasi.

1. Antipsikotik

Antipsikotik adalah pengobatan skizofrenia dengan menggunakan obat antipsikotik. Obat antipsikotik tersebut biasanya dikonsumsi setiap hari, bisa berupa pil ataupun cairan. Ada juga antipsikotik yang diberikan melalui suntikan satu atau dua kali dalam sebulan.

Cara kerja obat antipsikotik dalam menangani skizofrenia adalah dengan cara mempengaruhi zat neurotransmitter yang berada di dalam otak agar bisa menurunkan agitasi dan rasa cemas. Intervensi pada serotonoin dan dopamine ini akan mencegah halusinasi, delusi dan rasa cemas sehingga mampu berpikir dengan jernih.

2. Pengobatan Psikososial

Setelah penggunaan obat antipsikotik dan merasa bahwa penggunaan obat tersebut membantu mencegah halusinasi dan delusi, tim kesehatan mental profesional dapat merancang program pengobatan psikososial. Pengobatan psikososial dapat membantu pasien untuk belajar menggunakan keterampilannya dalam mengatasi skizofrenia sehari-hari sehingga kelak tidak kambuh dan mampu hidup sebagaimana mestinya.

3. Layanan Khusus Terkoordinasi (Coordinated special care / CSC)

Perawatan lain skizofrenia adalah dengan layanan khusus terkoordinasi / Coordinated special care. Perawatan model ini menggabungkan antara pengobatan, terapi psikososial, pelatihan manajemen kasus dengan melibatkan keluarga dan layanan pendidikan untuk mendukung program terkoordinasi ini. Layanan khusus terkoordinasi ini biasanya dirancang dengan perawatan khusus untuk mengurangi kemungkinan kelumpuhan jangka panjang yang sering dialami oleh penderita penyakit skizofrenia.